Tampilkan postingan dengan label CATATAN HATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CATATAN HATI. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2016

Hidup di Antara Mimpi, Usaha dan Kesempatan Usia


Pagi ini saya terjaga dari tidur karena mimpi yang sedikit aneh dan begitu saya tatap langit-langit rumah, kelihatan sudah terang.

Sepertinya sudah pagi, ”pikir saya. Ketika saya melirik jam, ternyata baru pukul 03.00 WIB.

Setelah  sejenak mengistirahatkan jiwa dan curhat kepadaNya, sambil menunggu beduk  Shubuh, saya menyempatkan diri membaca beberapa informasi. Alangkah kaget dan tidak percaya ketika saya mendapati berita kematian dua orang sahabat.

Salah seorang berkata bahwa beberapa hari yang lalu dia masih bercerita panjang lebar dengan sahabat yang meninggal itu tapi tak lama kemudian malaikat maut menjemputnya.

Sungguh tidak disangka, teman-teman sebaya saya sudah ada yang menghadap Kuasa terlebih dahulu. Diri ini tidak bisa merasa masih muda, jadi berpikir hidup masih panjang”, saya bicara dalam hati sambil termenung.Berita kedua yang tak kalah membuat saya tersentak tentang seorang sahabat yang meninggal pas di hari pesta pernikahannya. “Ya Allah, betapa Engkau menunjukkan kematian bisa datang kapan saja bahkan di saat hari bahagia. Saat bersanding pun maut bisa datang,” saya makin termenung.

Tidak tahu mengapa, mata saya jadi berkaca-kaca. Berita kematian memang selalu meninggalkan kenangan dan kesan yang mendalam. Entah karena takut, merasa belum siap atau entah kenapa.

Seabrek keinginan dalam hidup di dunia

Bila dilihat kembali, secara umum ada beberapa fase yang dilalui dalam hidup ini. Lahir, merangkak, berjalan, sekolah, kuliah, bekerja, menikah, berkeluarga, tua dan meninggal. Dalam menjalani fase demi fase tentu banyak hal yang telah terjadi.

Juga ada beragam keinginan dan harapan sebagai manusia. Ingin mendapatkan pekerjaan yang bagus. Ingin memiliki penghasilan yang cukup. Ingin naik jabatan. Ingin ke tanah suci. Ingin jalan-jalan ke luar negeri. Ingin bertemu jodoh dan menikah. Ingin bebas dari tanggungjawab. Ingin punya anak. Ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.  Ingin punya ini itu dan sebagainya.

Selain keinginan yang seabrek. Ada juga ujian dan kegagalan yang kadang membuat sebagian kita merasa tidak kuat lagi hidup, merasa tidak beruntung. Kadang tanpa sadar sebagian kita merasa berkecil hati karena Tuhan menguji dan menguji sementara orang lain begitu mudah mencapai impiannya.

Keinginan itu tak berbatas, tapi usia terbatas. Ini adalah poin utamanya.

Kadang dunia  kita terfokus pada satu atau beberapa keinginan dan harapan itu sehingga melupakan bahwa diri tidak hanya berpacu dengan waktu untuk mewujudkan keinginan itu satu persatu tapi juga berada di bawah bayang-bayang  kematian. Terlena dan sering lupa jatah usia berkurang detik demi detik.

Apakah bekal amal-amal saya sudah mantap bisa dibawa nanti?
Apakah nanti saya bisa membahagiakan orang tua?
Apakah saya bisa menggenapkan separuh agama saya dan berjodoh dengan seseorang?
Apakah harapan-harapan akan menjadi kenyataan?
Apakah tangggungjawab-tanggungjawab saya bisa selesai?
Apakah saya bisa meninggal dalam keadaan tenang tanpa melalaikan hak orang lain yang ada dalam diri saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan. Rasanya saya makin gelisah. Kemudian saya ingat bahwa selama hidup sampai berapa pun tua usia kita mungkin masih ada impian yang belum terwujud. Saya  juga ingat kata-kata Muhammad Sholeh bahwa setiap orang seperti apapun jauh dekatnya dengan cita-citanya tetap saja perjalanannya akan ditutup dengan kenangan.

Hm..bagaimana bisa kita angkuh dengan pencapaian kita,
Bagaimana bisa kita sombong dengan kelebihan kita,
Bagaimana bisa kita putus asa dengan kesulitan kita,
Bagaimana bisa kita menyalahkan nasib dan takdir kita,
Toh, sama-sama ke dalam tanah jua kita semua akan berada.

Saya pun nelangsa dan teringat kembali kabar kematian dua orang sahabat tadi.

Memang kita bisa meninggal kapan saja termasuk dalam usia muda dan mungkin kita tidak bisa mewujudkan beberapa impian kita tapi itu tidak menjadi batu sandungan mengapa kita menyia-nyiakan kesempatan.

Meski hidup akan terus dilengkapi dengan cobaan-cobaan, ketakutan dan kesedihan.
Meski hidup akan berakhir dengan kenangan.
Namun, jika tiada keberanian menerima dan menjalani hidup, maka kita telah menjadi manusia hidup yang telah mati. Manusia yang mati sebelum mati. Ini jauh lebih mengerikan.

Yap, berani lebih hidup dalam usia dan usaha yang terbatas, itulah salah satu tugas dalam hidup. Karena keterbatasan, mungkin tidak semua impian saya  yang terwujud nanti, mungkin tidak semua janji yang bisa dipenuhi, mungkin tidak semua tanggungjawab yang bisa diselesaikan. Paling tidak saya berani hidup untuk mengusahakannya dan memperbaiki kualitas diri sebelum menghadapNya,” ucap saya lirih sambil menyeka air mata. [HW/Fitzel]


Minggu, 10 Juli 2016

Surat Untuk Calon Imamku : Engkau Memang Belum Mapan Harta Tapi Engkau Telah Mapan Jiwa




Tidak perlu berkecil hati bila saat ini engkau masih kurang dalam rezeki.
Keluh kesah harus dijauhi agar ikhtiar tidak terbebani.
Setiap hati yang teruji sebelumnya pasti telah diuji

Engkau tahu, setiap insan memiliki daya tarik
Keindahan jiwamu adalah pesona tiada duanya
Pesona tak tampak bagi yang memandang kecuali dengan mata batin
Dan batin ini bisa menangkap sinyal terangnya

Seperti keyakinanmu, berkah kadang tak dijumpa dalam yang banyak
Sedikit tapi manis dan bisa dipertanggungjwabkan kehalalannya
Tetaplah jaga prinsip muliamu itu di tengah hedonis yang merajalela
Karena hidup ini tidak layak dijalani jika hanya bertumpu pada kata mapan semata

Engkau hamba yang merasa kurang mapan harta
Tapi bagiku, engkau lelaki mapan dalam jiwa
Apa yang kamu miliki tidak dapat diukur

Jika suatu hari engkau lengkap dalam angka-angka
Jiwamu tetap pondasi hidup utama dalam bersama
Karena angka-angka bukanlah perkara konstan
Senantiasa bergelombang seperti diagram matematika

Ku melihat engkau berbeda
Jiwamu  merupakan sebuah kelangkaan
Sinar budi pekertimu memancar
Tidak dapat diharga karena akhirat menjadi tujuannya

Engkau yang merasa kurang mapan harta, sungguh jiwamu mulia
Tak perlu merasa sedih, dari jiwamu Tuhan akan menyerta
Dalam bersahaja, semoga doa dan usaha memperoleh makna

Engkau yang sedang berjuang
Tabahmu menggapai rezeki adalah rahasia mimpi dunia
Dan di setiap syukur yang engkau panjatkan pagi petang
Ku percaya berkah Rabb pasti mengalir mengantarmu ke surga

Niat baik yang dikobarkan semoga segera menjadi nyata
Menggapai ridhaNya  agar tidak menumpuk kerikil dosa
Dengan rezeki sesuai yang dititipiNya
Biar hati dan hidup lebih tertata

Calon Imamku...
Tetap semangat menjemput masa depan dan menyempurnakan ikhtiarnya
Doa dari bidadari dan sebentuk hati yang menerima tanpa syarat turut mengiringi langkahmu
dalam keheningan

Jagalah jiwamu yang indah....
Jangan biarkan bahasa kalbumu membeku dan layu...
Luruskan saja niatmu demiNya. 

( HW / Elshabrina )

Jumat, 08 Juli 2016

Tanpa Kusadari, Beberapa Hal Berharga Kumiliki Ludes Habis di Media Sosial

Kadang kemodernan, kecanggihan, up to date dengan perkembangan zaman dibutuhkan bahkan menjadi ukuran bagi sekelompok orang. Tapi itu tidak mutlak karena sebagian kecanggihan menipu dalam kaca mataku sebagai orang awam. Aku gadis kampung, yang berpendidikan rendah dan tidak terdidik dalam pemahaman agama yang baik ikut tenggelam dalam pengaruh buruk teknologi.



Atas nama gaul, aku membeli semua  smartphone terbaru dan mengaktifkan semua aplikasi yang ada. Tak peduli darimana orang tuaku mendapatkan uang, dengan jalan hutang atau mengurangi belanja makan keluarga, yang penting aku memiliki gadget yang canggih.

Tersita Dan Terbuang Percuma

Temanku punya Facebook, aku juga punya. Temanku punya Twitter, aku juga. Instagram, BBM, WA, Line dan masih banyak lagi tidak pernah absen dari hari-hariku. Jika aku tidak on di situ, aku merasa kurang gaul, kurang cerdas dan dianggap kuno. Katanya tidak eksis gitu lho. Alhasil hidupku setiap hari dikendalikan oleh sebuah benda bernama smartphone, tablet dan ipad untuk menurutkan rasa gengsi dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup orang modern.

Setiap pemberitahuan yang masuk selalu mengundang rasa penasaranku. Tengah malam, shubuh, siang dan malam, aku selalu terhubung  dengan media sosial. Jika ditotal dalam sehari lumayan juga waktu yang aku habiskan untuk melayani setiap komentar yang masuk. Kadang tidur dan kegiatan dunia nyata lainnya terganggu. Konsentrasiku terpecah karena selalu terhubung online. Aku melakukan itu seperti  diluar kesadaran.

Hingga kemudian aku merasa jenuh, sepertinya aku tidak bisa membagi waktu kapan seharusnya aku bersilaturahmi di dunia online.Aku kemudian mulai belajar membagi waktu dan menonaktifkan sebagian notifikasi, aku berhasil memanage waktuku.

Beberapa Hal Berharga Milikku Ternyata Telah Hilang

Kini aku sudah tidak terlalu ketergantungan lagi secara psikologis dengan kabar berita di semua media sosial. Aku membukanya kapan merasa ingin buka sesekali saja. Waktuku lebih banyak aku habiskan untuk kegiatan di dunia nyata. Tak peduli lagi aku dianggap kampungan, tidak gaul, katrok, ndeso  dan lainnya. Aku sudah tidak eksis tapi justru itu membuat aku merasa lebih tenang karena berhasil menaklukkan keinginanku sendiri yang tidak begitu banyak mendatangkan manfaat padaku.

Namun, ternyata ada hal yang lebih penting dari sekedar pembagian waktu bersosial di dunia maya.  Jika sebelumnya aku merasa berbagai aplikasi telah menyita sebagian besar waktuku, kini aku baru sadar kalau aku juga telah kehilangan hal berharga yang kumiliki.

Pertama, pahala ibadah dan amalku.
Dahulu, masa awal dan gila-gilanya aku dengan aplikasi media sosial sebagai sesuatu yang baru, aku seperti tidak terkontrol. Apa yang terasa aku sampaikan bahkan tanpa sadar juga ibadah-ibadahku. Secara tidak langsung aku telah terjebak dalam sifat riya, meskipun tidak berniat memamerkan pada khalayak tapi aku telah memperlihatkan secara terang-terangan.

Aku merasa amal dan ibadahku sudah kurang nilainya dan hilang karena aku publikasikan di media sosial. Niatku juga kabur, untuk apa aku posting kalau tidak untuk memberitahu orang. Ketika aku melakukan kebaikan, aku mempostingnya dan jujur aku memang menunggu tanggapan dari orang lain. Berharap mendapat komentar pujian.

Ketika aku puasa, shalat, aku akan melapor terlebih dahulu di media sosial. Parahnya lagi ketika aku berhasil meraih sesuatu aku juga membagikannya, mungkin sedikit bercampur rasa ingin menunjukkan diri sendiri. Aku sering melihat orang memposting foto naik haji, umrah, mengaji dan sebagainya sehingga aku merasa mengabarkan ibadah menjadi sesuatu yang biasa.

Kadang seperti berlomba dengan teman-teman almamater sekolahku. Seakan sahut menyahut memberitahu dunia tentang informasi dan kemajuan terbaru diriku. Bahwa aku tidak kalah dengan mereka setelah sekian tahun tamat sekolah. Kurang lebih seperti ajang pamer.

Kedua,  uang yang dikasih kedua orang tua habis tidak bermanfaat
Setelah aku pikir ulang, memang internet di zaman sekarang adalah kebutuhan. Namun, baru aku sadar bahwa memanfaatkan uang membeli paket internet hanya untuk memposting di macam-macam jejaring media sosial terpopuler rasanya rugi.

Aku melihat orang lain dengan kuota internet yang sama mereka bisa menghasilkan uang atau paling tidak mereka berkarya seperti berdakwah, menulis, desain dan sebagainya. Mereka tetap bermedia sosial tapi mereka produktif. Lantas aku?seperti orang yang banyak uang dan membuang-buangnya hanya untuk bisa eksis.  Seperti orang yang banyak waktu dan kurang kerjaan.

Aku Ingin Bermedia Sosial Seperti Orang Terdidik

Kini, aku hanya sering membuka  beberapa aplikasi yang memang jelas fungsinya untuk memudahkan komunikasi dan silaturahmi. Sementara, aplikasi tertentu sudah mulai aku batasi penggunaannya. Begitu juga, aku memperjelas penggunaan paket internetku pada hal yang bernilai guna.

Selama ini mungkin karena ilmuku yang kurang dan juga keterbatasanku, begitu sulit bagiku menjaga hatiku ketika bermedia sosial. Satu waktu aku bisa mengontrol agar tidak riya, tidak menunjukkan diri tapi di lain waktu aku lupa lagi.

Katanya media sosial dan internet bagaikan pisau bermata dua. Memiliki dampak positif dan negatif, baik dan buruk. Satu sisi bermanfaat dan sisi lain pengaruh media sosial justru seperti melukai. Mungkin mereka yang berpendidikan  hanya menggunakan media sosial untuk berbagi informasi yang bermanfat saja. Mereka memakai smartphone, tablet dan ipad bukan sekedar gaya-gayaan sepertiku tapi ada nilai tambah yang mereka hasilkan dengan teknologi. Teknologi membuat mereka lebih produktif dan mencapai efisiensi. Bukan sekedar konsumsi tidak berarti dan gengsi tingkat tinggi.

Kurasa itulah bedanya denganku.Orang terdidik sepertinya memanfaatkan media sosial untuk hal yang berguna tapi orang yang kurang terdidik sepertiku malah dimanfaatkan dan diperbudak oleh media sosial untuk tetek bengek yang tidak berguna. Aku malah terbelenggu akibat kecanduan dan ketagihan media sosial.

Kini bagiku sesuatu yang canggih tidak lagi sebagai pembangga bahwa aku mendapat predikat gaul dan eksis oleh teman-temanku. Aku ingin seperti orang terdidik, yang memperbudak teknologi bukan diperbudak teknologi. Aku ingin seperti mereka yang menghasilkan karya dengan internet, bukan menghabiskan kuota untuk  cuap-cuap bernilai kosong. Aku ingin mengendalikan teknologi dalam hidupku seperti mereka yang terdidik. [ HW/ Elshabrina ]