Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2016

Bismillah, Kuhijabkan Ragaku Terlebih Dahulu Sebab Entah Kapan Aku Mampu Menghijabkan Hatiku

Wanita berhijab itu cantik, menurutku. Apalagi dengan hijab yang menjuntai menutupi sebagian besar tubuh. Meskipun aku belum berhijab tapi aku suka sekali melihat wanita-wanita yang berhijab, apalagi berhijab syar’i. Mereka terlihat lebih sopan dan lebih anggun dengan baju lebar dan hijab panjang mereka. Suatu saat aku juga ingin berhijab, bahkan berhijab syar’i seperti Nafisa.

Nafisa temanku. Nafisa memutuskan memakai hijab syar’i sejak sebulan, cantik sekali. Setiap kali Nafisa mematut diri di cermin, aku  seringkali merasa iri. Nafisa begitu cantik dengan hijabnya. Teman-temanku juga sering sekali memuji  Nafisa karena kecantikan dan cara berpakaiannya yang sopan serta tutur kata Nafisa yang lembut. Setiap kali membicarakan tentang sosok wanita idaman, Nafisa selalu termasuk di dalamnya. Pesona Nafisa dengan hijabnya tersebut akhirnya juga membuatku punya keinginan untuk berhijab.

Bismillah, kuhijabkan hatiku dengan hijab. Photo via islamiclife


Namun, saat Nafisa membuatku termotivasi untuk berhijab, Nafisa juga menjadi alasan kenapa aku mengurungkan niatku untuk berhijab. Hal tersebut terjadi saat aku tidak sengaja mendengar hal-hal buruk yang dibicarakan orang tentang Nafisa. Dari semua hal yang digunjingkan orang-orang tentang Nafisa yang paling kuingat adalah tentang kata-kata “munafik” yang ternyata disematkan untuk Nafisa selama ini.

Kenapa Nafisa dibilang munafik?
Nafisa seorang muslimah berhijab syar’i tapi Nafisa punya pacar. Mempunyai pacar sebenarnya lumrah di lingkunganku. Hampir semua kami mempunyai teman laki-laki. Namun hal tersebut sangat tabu jika terjadi pada wanita yang berhijab, apalagi  berhijab syar’i.

Selain karena mempunyai pacar. Nafisa juga sering dianggap ekstrim oleh sebahagian orang yang ”menolak” hijab panjang dan bahkan terkadang dicurigai mengikuti aliran-aliran tertentu. Banyak yang menyukai muslimah yang lebih syar’i. Namun tidak sedikit  juga sebenarnya yang tidak menyukai wanita yang berhijab syar’i dan kebanyakan datang dari mereka yang tidak berhijab atau yang tidak menyukai hijab syar’i. Sayangnya aku malah lebih terpengaruh pada mereka yang tidak suka.

Nafisa saja yang ibadahnya rajin, tutur katanya baik, tapi tetap menjadi bahan gunjingan orang-orang. Apalagi aku? Aku saja ibadahnya masih bolong-bolong dan tidak tepat waktu. Bicaraku ceplas-ceplos dan sering membuat orang lain tersinggung. Yang paling parah aku punya pacar. Jujur aku belum siap melepas pacarku demi memakai hijab.

Aku menghormati orang yang memakai hijab dan jujur dihatiku aku juga ingin memakainya. Namun membayangkan apa yang akan orang bilang tentang aku yang belum pantas berhijab rasanya aku belum siap. Hijab butuh kesiapan hati. Aku tidak mau menodai hijabku dan membuat wanita berhijab jadi mempunyai citra buruk hanya karena beberapa orang seperti aku yang sebenarnya belum pantas menjadi hijab.

Biarlah hijab menjadi pakaian orang-orang yang sudah benar-benar bersih hatinya, halus lisannya dan baik akhlaknya. Dengan begitu, hijab akan tetap mempunyai citra yang positif. Ya, aku harus menjilbabkan hati dulu baru menghijabkan kepala. Keputusanku sudah final untuk menunda dulu memakai hijab sampai hatiku benar-benar siap.

***

Beberapa bulan setelahnya, Nafisa mengajakku berbicara. Sepertinya Nafisa akan membicarakan hal yang serius. Hal itu ditunjukkan dengan beberapa potong kue dan jus buah yang disiapkan Nafisa di meja ruang tamu. Nafisa selalu menyiapkan itu jika kami akan mendiskusikan sesuatu yang serius atau mengerjakan sesuatu yang memakan waktu lama.

Ini untuk Ara.” ucap Nafisa sambil menyodorkan sebuah bungkusan padaku. Saat aku melihatnya dengan tampang bertanya Nafisa hanya tersenyum sambil mengangguk. Isyarat yang menyuruhku untuk membukanya. Sebuah kerudung. Seperti kuduga. Minggu lalu Nafisa juga memberiku sebuah kerudung tapi aku menolaknya dengan alasan belum siap pakai hijab.

Fisa benar-benar ingin melihat Ara memakainya. Fisa tahu Ara sudah berniat bukan?” ucap Nafisa sambil mendorong salah satu gelas jus buah untukku. Aku menatap kerudung coklat yang diberikan Fisa lalu mendorongnya kembali ke arah Nafisa.

Nanti saja Sa, Fisa simpan saja dulu, belum sekarang” ucapku  pada Nafisa karena memang aku belum benar-benar siap.
Tak baik menunda niat baik, Jika Ara sudah niatkan, segerakanlah sebelum ada hal yang membuat niat baik kita berbelok
Aku bersikukuh pada Nafisa tentang ketidaksiapanku dan menjelaskan padanya alasan-alasan kenapa aku belum mau berhijab. Nafisa mendengarkanku dengan seksama. Setelah aku selesai bicara baru lah Nafisa memandangku sambil tersenyum.

Ra, Berhijab bukan masalah siap atau tidak. Berhijab adalah kewajiban. Kita tidak boleh punya alibi apapun untuk menundanya. Ara ingat bukan dalil yang sering kita pelajari tentang hijab?. Ara bilang mau menghijabi hati dulu baru menghijabi kepala. Fisa mengerti dengan alasan itu. Ara tidak ingin menodai citra hijab bukan?”

Fisa dulupun demikian. Fisa disuruh berhijab dan berpakaian lebih baik tapi Fisa tidak merasa pantas. Kenapa? Karena shalat Fisa belum teratur. Ara tahu kenapa Fisa sering digunjingkan? Fisa beritahu Ara suatu rahasia. Fisa pernah hamil diluar nikah”, sampai disitu Nafisa berhenti.

Aku sebenarnya tidak terlalu terkejut karena beberapa orang memang pernah membahas hal itu namun aku tidak menanyakannya pada Nafisa. Tapi ketika Fisa menceritakanya aku menjadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang kebenaran berita itu.

Hal itu terjadi karena Fisa tidak punya pengontrol diri dalam hidup Fisa. Ketika Fisa belum berhijab Fisa merasa “pantas” berbuat dosa, Fisa santai saja berbohong. Fisa merasa biasa saja ketika disentuh oleh teman laki-laki karena Fisa merasa Fisa bukan orang alim dan tidak harus bertindak sebagai orang alim. "

" Fisa benar-benar hidup penuh kebebasan bahkan sampai kebablasan dan Fisa hamil. Karena suatu kecelakaan kecil, di usia  dua bulan, kandungan Fisa keguguran. Beruntung Ayah dan Ibu tidak menghakimi Fisa berlama-lama. Ibu meminta Fisa untuk berpakaian lebih sopan. Fisa yang hampir mencoreng nama baik keluarga menurut. Itulah awal mula Fisa berhijab. Tepatnya dua tahun yang lalu. Fisa berhijab karena terpaksa, demi menutupi aib."

Ketika Fisa ke kampus, semua melihat perubahan Fisa dengan bahagia dan bangga. Mereka bilang Fisa lebih cantik. Mereka memuji Fisa karena berhijab artinya sholehah.  Fisa pun terkenal sebagai gadis muslimah solehah

Fisa tidak solehah Ra, tapi hijab yang Fisa mengharuskan Fisa menjadi solehah. Tiap kali Fisa belum shalat, Fisa ingat Fisa sudah berhijab. Fisa malu jika tidak shalat. Ketika Fisa ingin berkata kotor atau berbohong, Fisa ingat kalau Fisa berhijab dan tidak semestinya melakukan hal tersebut. Lama-lama dari yang awalnya pencitraan. Lama-lama menjadi kebiasaan, lama-lama kebiasaan akan berubah jadi kebutuhan iman. Bukan lagi karena alasan-alasan dunia seperti ingin tampil  cantik, ingin dipuji, tuntutan orang lain namun akan tumbuh disini, di hati kita sebagai kewajiban kita pada Allah” Nafisa  menunjuk dadanya, lalu gantian menunjuk dadaku juga.

Nafisa menatapku sambil tersenyum.
Sekarang bolehkah Fisa bertanya sesuatu pada Ara?” karena aku masih diam tidak menanggapi apa-apa Fisa memutuskan untuk menanyakan lagi suatu hal padaku.
Sejak Ara memutuskan menghijabkan hati, sudah sampai mana hati Ara terhijabkan? Berapa lagi kira-kira Fisa menunggu hati Ara bersih?”

Aku menelan  ludah. Sudah sampai mana hatiku terhijabi? Apakah hatiku sudah bersih?. Kemarin aku masih membicarakan orang lain. Dua hari yang lalu aku pergi karaoke bersama pacaku, hanya berdua.  Tidak, hatiku tidak semakin bersih. Aku merasa hatiku terus terkotori dengan perbuatan-perbuatan yang aku lakukan tanpa ada pengontrol diri. Ditambah lagi dosa-dosaku yang tidak memakai hijab setiap hari.

Dengan tidak memakai hijab, maka kita otomatis menghindari hati kita dari menjadi bersih sebab kita menabung dosa setiap hari. Dengan menunda memakai hijab maka kita tidak punya pengontrol dalam bersikap. Tidakkah itu yang Ara rasakan?. Kita bahkan terkadang malu mengerjakan amalan sunnah karena takut dibilang sok alim padahal tidak pakai hijab. Benar kan? "

Aku menundukkan wajah. Apa yang diucapkan Nafisa memang benar. Bukannya merasa lebih baik, semakin hari aku semakin jauh saja rasanya dari agama.

Sebaliknya dengan memakai hijab, maka hijab bisa menjadi salah satu pengendali kita dari melakukan hal-hal yang buruk. Kenapa? Karena orang akan memandang kita sebagai seorang muslimah yang baik, itu sebabnya kita jadi selalu berusaha berbuat baik. Ara tidak perlu harus menunggu menghijabkan hati dulu sebab hijablah nanti yang akan menjaga kita.”

Aku menatap wajah Nafisa yang tersenyum padaku. Nafisa meraih tanganku dan meletakkan kembali hijab tadi di tanganku.
Bagaimana dengan Zaky?” tanyaku pada Ara, sebab aku memang masih menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, seperti halnya Nafisa yang dulu juga masih berpacaran dengan Fatih.

Jangan fikirkan apa-apa dulu Ra. Ketika Ara telah memutuskan memakai hijab, Ara pasti tau apa yang harus Ara lakukan. Ara lebih kuat, Ara lebih hebat jadi Fisa yakin Ara bisa melepaskan Zaky lebih cepat”
Apa yang orang-orang bilang tentang kita, jangan sampai membuat Ara kembali goyah. Ayo sama-sama kita  tanamkan niat,  kuatkan tekad, dan istiqomah demi akhirat

Aku menghela nafas dalam-dalam. Benar. Beberapa bulan niat menghijabkan hatiku tidak berhasil. Niat memperbaiki akhlak dulu baru berhijab juga tidak berhasil. Kenapa tidak berhasil, karena memang bukan begitu ternyata seharusnya.

Kini aku berhijab dan hijab perlahan sebagai reminder untuk menjaga hatiku. Mungkin hatiku belum begitu bersih dan masih berlumur dosa tapi semoga semakin lama hijab menutupi tubuhku, semakin banyak pula terhapus dosa-dosaku. [HW/Cerpen By Yefra Desfita Ningsih]


Selasa, 14 Juni 2016

Aku Dan Sebuah Sesal Teramat Dalam

Sebenarnya aku adalah orang yang sangat mudah  kasihan dan tersentuh. Apalagi melihat orang-orang yang  kurang beruntung seperti pedagang asongan,pedagang sayur, tukang sol sepatu hingga pengemis. Mungkin karena aku juga bukan dari keluarga yang hidup berkecukupan. Aku pernah merasakan kehidupan di titik-titik yang paling susah sehingga aku seperti merasakan apa yang mereka rasakan.
Itulah sebabnya, meskipun tidak dengan jumlah yang besar aku selalu menyisihkan sedikit rezeki untuk kusedekahkan pada pengemis-pengemis yang sering kutemui di jalan atau yang langsung datang mengetuk-ngetuk pintu rumah.

Seorang pengemis tua. Photo via says.com


Namun suatu hari kebiasaanku untuk berbagi dirusak oleh suatu peristiwa. Jangankan untuk berbagi lagi untuk masa yang akan datang, rezeki yang keberikan sebelum-sebelumnya bahkan kusesali.
Begini ceritanya. suatu hari aku kami kedatangan sepasang  pengemis di kampus. Mereka sebenarya belum telalu tua, masih sehat namun mungkin karena mencari pekerjaan susah dan mereka tidak punya keahlian khusus, maka akhirnya jatuhlah pilihan pada mengemis. Menengadahkan tangan membuang jauh-jauh rasa malu demi bisa makan. Ditambah lagi  suami ternyata buta, itu sebabnya sang istri menemani untuk menunjukkan jalan.

Kami tanpa fikir panjang langsung mengumpulkan uang untuk diberikan pada mereka. Kebetulan saat itu kami sedang beramai-ramai koridor kampus menjelang ujian dimulai. Ada yang memberikan seribuan, dua ribuan, bahan ada pula yang memberi pecahan 10 ribu. Sekitar 63.000 rupiah berhasil terkumpul waktu itu untuk kami berikan pada sang pengemis.

Pengemis tersebut mengucapkan terima kasih berkali-kali dan tidak lupa pula mendoakan supaya kami ujian dengan sukses. Kami pun menyahutnya dengan mengucap Amin serentak. Kami selalu bahagia ketika bisa membantu orang lain. Pengemis itupun dengan langkah yang tertatih-tatih di bimbing istrinya lalu pergi menuju tempat lain.

***

Esok harinya aku melihat lagi pengemis yang sama. Pengemis tersebut berjalan menuju gerbang kampus. Kebetulan hari ini aku belum bersedekah jadi aku mempercepat langkah untuk mengejar mereka sekedar berbagi dua ribu rupiah. Tapi ada yang aneh dengan mereka. Sampai di titik yang agak sepi sebelum sampai gerbang si wanita terlihat melepaskan tangan pasangannya.

Si  Ibu yang biasanya jalannya agak tertatih itupun berjalan dengan normal sebagaimana orang yang sehat lainnya. Saat seorang teman menawari aku tumpangan aku pun memutuskan ikut agar cepat sampai pada pengemis tersebut. Tapi tahukah Sobat apa yang aku lihat? Mereka sedang menghitung uang hasil mengemisnya hari ini. Lho bukankah si bapak pengemis tersebut buta? Tidak. Dia ternyata hanya berpura-pura buta. Bukankah si Ibu biasanya berjalan sedikit pincang dan tertatih-tatih? Tidak beliau hanya sedang menarik belas kasihan.

Ternyata mereka selama ini bohong. Mereka menjadikan kekurangan untuk mendapatkan belas kasihan. Hal yang lebih parahnya mereka membuat-buat “kekurangan” agar orang lain iba.  Tidak hanya pengemis itu saja, besoknya aku menonton sebuah acara di televisi yang menayangkan tentang hal-hal yang tertangkap oleh CCTV.

Dalam CCTV tersebut mulanya terdapat seorang pengemis yang sedang duduk di depan sebuah ruko. Pengemis tersebut kakinya “buntung” karena bagian celananya di ujung terlihat kosong. Lalu tiba-tiba datang segerombolan orang yang diduga preman yang sedang tawuran.

Apa yang terjadi? CCTV menangkap dan membongkar kebohongan pengemis tersebut. Saat gerombolan preman tersebut datang, dia lari terpingkal-pingkal. Dia tidak buntung. Dia punya kaki yang bisa membuatnya tidak hanya berjalan namun berlari. Hal itu membuatku merasa dibohongi. Mereka memanfaatkan rasa simpati dan belas kasihan orang-orang untuk mendapatkan uang. Mereka masih sehat  dan sebenarnya sanggup bekerja. Namun rasa malas membuat mereka akhirnya malah berpura-pura.

Rasanya tidak adil melihat mereka yang masih sehat namun mudah saja mendapatkan uang dengan memanipulasi keadaan dengan tujuan mendapatkan belas kasihan, sedangkan masih banyak mereka yang sudah sangat tua, mempunyai cacat namun bekerja dengan begitu keras tanpa meminta belas kasihan bahkan menolak untuk dikasihani.

Merasa tertipu dan dibohongi seperti itu, aku mulai malas untuk berbagi dengan para pengemis tersebut. Aku yang semula kasihan pada semua pengemis, sekarang malah melihat mereka sebagai penipu. Akibatnya, aku tidak lagi meneruskan kebiasaanku bersedekah pada pengemis. Termasuk pada pengemis yang sering datang ke rumahku maupun pengemis-pengemis yang kutemui di jalan. Bagiku akhirnya mereka sama saja, penipu yang pemalas.

Hingga pada suatu hari, seorang pengemis datang lagi ke rumahku. Pengemis yang sama yang telah datang ke rumahku setiap dua kali seminggu. Setelah beberapa hari tidak mendapat apa-apa, sebelumnya bapak tersebut memang telah tiga minggu tidak lagi singgah ke rumahku. Hingga suatu hari dia datang lagi. Aku tidak punya alasan lagi untuk tidak memberinya. Aku lelah berbohong dan tidak tega juga sebenarnya.

Saat pengemis tersebut mengetuk pintu dan mengucapkan salam Aku diam saja, aku malah mematikan TV dan masuk ke kamar. Setelah mengucapkan salam tiga kali dan tidak kusahuti, kuintip dari nako pengemis tersebut akhirnya pergi. Kulihat jalannya sempoyongan sekali sambil meraba-raba jalan dengan tongkatnya.

Ya, sejauh yang aku kenal dulu Bapak tersebut memang buta tapi jalannya normal. Aku sedikit khawatir, jangan-jangan Bapak pengemis tersebut sedang sakit. Bagaimana kalau dia memang belum makan? Aku segera berlari ingin membuka pintu dan memberi sedikit rezeki pada beliau.

Namun tiba-tiba fikiran buruk kembali merasukiku. “Ah jalan sempoyongan, paling modus ucapku dalam hati, jangan-jangan dia juga sebenarnya tidak buta.” Aku urung menutup membuka pintu dan kembali ke kamar.

***

Beberapa jam kemudian, aku mendengar sebuah berita ditemukannya seorang pengemis sedang terkapar di tepi jalan. Dari cerita yang kudengar. Pengemis tersebut buta dan sedang kelaparan karena tidak makan selama 4 hari. Dadaku langsung berdetak kencang. Jangan-jangan dia adalah pengemis yang sering datang ke rumahku dan beberapa hari ini telah kuabaikan. Setelah kutanya ciri-cirinya ternyata benar. Terbersit sebuat pertanyaan.

Apa dia benar-benar buta?" tanyaku pada temanku.
Temanku tersebut memandangku dengan sedikit heran.

Ya, dia buta. Kenapa kamu bertanya apa dia benar-benar buta? Kamu kira dia bohong? Ya Allah Fira, jangan-jangan kamu sama saja dengan kebanyakan orang yang menganggap semua pengemis itu berbohong?

Memang begitu yang banyak kulihat Naya, itu kenapa aku sudah mulai malas memberi sedekah pada mereka. Jangan-jangan mereka hanya modus, pura-pura karena pemalas” ucapku membela diri.

Astaga Fira, mau bersedekah saja kok su’uzhon sih? Mungkin ada yang seperti itu, namun hal tersebut jangan merusak kebiasaan baikmu untuk bersedekah Fir. Buang jauh-jauh anggapan tersebut. Niatkan saja untuk bersedekah

Tapi Naya, bagaimana kalau mereka sebenarnya berkecukupan, bagaimana kalau sedekah kita salah sasaran?

Jika kau fikirkan bagaimana-bagaimana maka akan  banyak hal-hal negatif yang terfikirkan Fira. Banyak sekali. Jangankan yang pura-pura yang benar-benar punya cacatpun bisa kamu curigai. Akibatnya? Niat baik bersedekah akan gagal. Kesempatan untuk menabung akhiratpun jadi terlewatkan

Aku diam saja. Memang sejak anggapan dan persepsi pengemis  modus tersebut merasuk di fikiranku,aku memang tidak lagi pernah bersedekah. Ada yang minta sumbangan di angkutan umum untuk keperluan sosial aku curiga jangan-jangan hanya kedok dan uangnya sebenarnya untuk kepentingan pribadi. Ada yang minta sumbangan pembangunan mesjid ataupun bencana alam aku tidak acuh. Jangan-jangan hanya modus. Karena fikiran negatif tersebut akhirnya aku benar-benar tidak pernah lagi bersedekah.

Bukankah ini punyamu?” Saat aku tertegun Naya mengagetkanku dengan menyodorkan sebuah bundelan kertas padaku. Kertas-kertas itu merupakan makalahku yang sudah kubuang di tempat sampah depan rumah agar dibawa tukang sampah.

Ya, aku membuangnya pagi ini, kau dapat darimana?” Tanyaku heran.
Bapak pengemis tadi yang membawanya. Berarti yang dibicarakan pengemis itu adalah kamu Fira, astaga Fira? Apa yang telah kau lakukan padanya?”
“Apa maksudmu Nay?”

Dia tidak sepenuhnya mengemis Fira. Kau pernah bilang padaku bahwa kau heran tidak pernah ada tukang sampah yang mampir untuk meminta bayaran sampah padamu bukan? Sedangkan setiap pagi tong sampahmu selalu bersih? Dia Fira, pengemis itu yang melakukannya. Dia tidak mengemis sepenuhnya padamu. Dia menjadi tukang sampahmu dan mengambil sedikit upah dari itu. Beberapa hari ini dia bilang tidak  mendapatkan apa-apa dan kelaparan.”

Tubuhku gemetar. Dalam kondisi ini justru akulah pemeran antagonisnya. Fikiran su’uzhon benar tersebut benar-benar telah membuat aku menjadi orang jahat. Bapak tersebut bahkan sebenarnya bukanlah pengemis. Dia membersihkan sampahku setiap pagi dan sekalian membawanya ke  tempat sampah dan aku hanya memberinya paling banyak dua ribuan untuk itu.

Dari informasi yang kudapat dari orang-orang aku akhirnya juga tahu kalau sebenarnya Bapak tersebut punya seorang anak lumpuh yang harus dihidupinya dirumahnya yang hanya gubuk 2 x 3 meter. Bapak tersebut beberapa kali mencoba bekerja apa saja, baik itu jadi buruh, tukang sapu dan berbagai pekerjaan berat lainnya, namun matanya yang buta dan fisiknya yang sangat lemah tidak memungkinkan.

Jalan sempoyongan Bapak yang kulihat beberapa yang lalu bukan modus. Bapak tersebut juga tidak sedang pura-pura buta. Dia juga bukannya pemalas yang tidak berusaha melakukan pekerjaan lain. Aku saja yang terlalu su’uzhon. Hingga bersedekahpun kutinggalkan. Betapa berdosa dan menyesal diri ini. [HW/Cerpen by Yefra Defita Ningsih]

Minggu, 12 Juni 2016

Saat Tulang Punggung Mendamba Menjadi Tulang Rusak

Dia usiaku yang sekarang ini sebenarnya sangat wajar jika pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti datang.  Apalagi aku sudah menyelesaikan pendidikan S1. Waktu yang sangat ideal sebenarnya. Tidak hanya wajar dipertanyakan, sejujurnya, keinginan tersebut kadang juga mulai terbersit. Pasti hidupku lebih mudah karena ada suami untuk berbagi. Namun aku tidak sendiri di dunia ini. Bagaimana mungkin aku memikirkan hidupku sendiri.

Mendamba menjadi tulang rusuk. Photo via hdfreewalpaper.net


Aku anak sulung. Mengingat betapa berat hidup kami dan beberapa adikku yang masih sekolah maka aku sudah berjanji setelah tamat S1 akan mengambil alih tugas ayah yang sudah sakit-sakitan untuk menjadi tulang pungung keluarga. Lalu setelah menikah bagaimana dengan keluargaku?

Akankah suamiku masih mengizinkanku untuk menjadi tulang punggung keluargaku? Aku tidak yakin. Jika begini bagaimana mungkin tulang punggung nak berangan menjadi tulang rusuk? Keluarga yang selalu menjadi prioritas utama bagiku akhirnya  membuatku menyimpan dulu keinginan untuk menjadi tulang rusuk. Jika aku menikah nanti sudah pasti suami menjadi prioritas, lalu bagaimana dengan keluargaku? Adik-adikku? Keponakanku?

Aku menyibukkan diri sepenuhnya untuk bekerja dan menutup diri dari laki-laki  sebab aku takut akan ada perasaan yang melibatkan hati.  Hal ini terkadang membuat keluargaku merasa bersalah, apalagi kedua orang tuaku. Mereka menyesali diri sebab sudah tua dan tidak lagi bisa bekerja lebih keras. Beberapa kali bahkan tidak sengaja kudengar ayah dan ibu meminta adik-adikku berhenti dulu saja kuliah karena tidak tega denganku yang bekerja siang malam, berkorban tanpa lelah.

Ayah, Bunda, untuk keluarga kecil kita, kakak tidak pernah merasa lelah. Ada ketenangan batin yang luar  biasa saat bisa menekan keinginan demi kebahagiaan keluarga” ucapku sore ini sambil memeluk bahu ibu.

Apa keinginanmu Nak? Kau ingin menikah?” tanya Ibu
Aku terdiam. Aku keceplosan menyebut menekan keinginan. Aku tersenyum dan menggeleng. Belum Bu. Nanti setelah adik-adik menyelesaikan kuliahnya.

Menikahlah jika sudah kau temukan jodohmu Nak. Bagaimanapun menikah adalah ibadah. Bagaimanapun kau harus mempunyai seseorang yang bisa menjagamu, melindungimu. Kau sudah terlalu lelah. Mungkin ayah dan ibu tidak bisa penuhi kebutuhan adik-adikmu sepenuhnya. Namun mereka pasti akan mengerti."

Iya nanti Bu, sekarang aku belum punya calon kok. Jadi sebelum itu biarku baktikan diri untuk keluarga sebelum aku nanti dimiliki oleh orang lain,” mengucapkan itu ada air mata yang mengalir di pipiku. Takut sekali rasanya jika suatu saat aku harus berhenti memberi nafkah untuk keluargaku. Bukan tanpa alasan ketakutanku begini.

Aku punya seorang teman. Sama sepertiku, dia anak sulung. Setelah tamat kuliah dia menikah dan diajak suaminya tinggal di luar kota. Sejak itu, Dahlia, begitu namanya sudah sangat jarang pulang meninggalkan ibunya yang seorang janda dan tiga orang adiknya yang masih kecil. Jangankan pulang, Dahlia konon sudah  tidak lagi mentranfer uang untuk adik-adiknya. Untung Ibu Dahlia punya sebuah toko kecil yang bisa dijadikan sumber penghasilan. Sedangkan ibu dan ayahku mereka yang sudah tua dan lemah.

Alasan lainnya adalah Kak Fatan, salah satu seniorku di tempat kerja. Dia seringkali bicara di tempat kerja kalau dia ingin mendapatkan istri anak tunggal atau anak bungsu dengan alasan dengan begitu perhatiannya jadi sepenuhnya pada suami. Hal ini juga berangkat dari pengalaman Kak Fatan yang katanya dulu pernah punya istri anak sulung namun sang istri justru lebih sayang pada adik-adiknya dan sering memberi uang untuk orang tua dan adik-adiknya.

Keadaan tersebut membuat Kak Fatan akhirnya bercerai dengan istrinya yang pertama. Hal itu membuatku berfikir. Anak sulung yang menjadi tulang punggung bukanlah sosok istri yang diidamkan oleh seorang laki-laki karena perhatiannya akan terbagi-bagi. Jika begitu laki-laki mana pula yang hendak mengambil tulang punggung untuk menjadi tulang rusuk?

Hal itu membuatku akhirnya memutuskan, baiklah aku akan  menunda dulu hingga adikku benar-benar terjamin dan aku mendapatkan modal yang besar untuk orang tuaku jika suatu saat suamiku membawaku pergi meski memang aku tidak tahu sampai kapan aku harus menunggu.

Sekarang usiaku sudah 28 tahun. Benar-benar bukan usia yang muda lagi. Beberapa kali memang ada yang datang tapi aku selalu menolak dengan cara yang halus. Alasan-alasan aku merupakan tulang pugggung ternyata begitu mudah diterima oleh para laki-laki sebab mungkin mereka juga tidak begitu siap turut menanggung keluargaku.

Hingga pada suatu hari ayahku sakit. Layaknya orang tua lainnya, seringkali ayah menanyakan kapan aku menikah? Adikku yang perempuan sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya sedang si bungsu baru duduk di tahun ke 2 di universitas. Belum. Mereka belum sepenuhnya selesai. Aku masih sepenuhnya tulang punggung yang bertanggung jawab untuk kedua orang tuaku dan kedua adikku. Jadi aku berfikir ini masih belum waktuku untuk menikah.

Aku melihat banyak sekali perasaan campur aduk di wajah ayah. Mulai dari perasaan merasa bersalah, kasihan padaku, dan juga ketakutannya pergi sebelum sempat menikahkanku. Aku duduk di pembaringan ayah. Aku memegang tangannya dan tidur di pergelangan tangan ayah.

Maafkan aku ayah”
Entah sampai kapan aku akan seperti ini terus. Tidak aku tidak lelah sebenarnya, tidak juga  menyesali semuanya, bayangan dosa serta tidak membahagiakan ayah di penghujung usianya membuatku takut. Hingga pada suatu hari Allah selipkan sebuah skenario paling indah diantara yang indah dihidupku.

Seseorang melamarku. Dia adalah orang yang memang sejak lama sebenarnya aku suka. Aku langsung menerimanya. Ya, tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya. Kenapa? Apa dia begitu tampan sehingga aku langsung terhipnotis? Tidak dia biasa-biasa saja. Apa dia pintar sehingga aku terpikat? Tidak juga.

Jangan-jangan dia kaya dan mau menanggung keluargaku dan tidak keberatan aku bekerja untuk keluargaku? Salah. Dia bahkan baru merintis karir dari bawah. Usaha kecil-kecilan. Lalu apa yang membuatku langsung menerima bahkan tanya berfikir?

Kelapangan jiwanya, aku terpesona dan tidak menyangka. Ini yang diucapkannya saat aku bilang aku tulang punggung keluargaku yang punya tanggungan berat.

Keluargamu, keluargaku. Kamu tulang punggung keluargamu tapi kamu tulang rusukku yang jadi tanggunganku. Jadi keluargamu otomatis tanggunganku. Jika kamu keberatan dengan itu maka “ mari jadi tulang punggung bersama-sama

Aku lega, bukan karena dia mau menanggung aku dan keluargaku tapi karena dia mau sama-sama berjuang menjadi tulang punggung. Itu artinya dia tidak akan membatasiku untuk terus memberi perhatian pada keluargaku.  Rahasia Allah Maha Indah.[HW/Cerpen oleh Yefra Desfita Ningsih]