Tampilkan postingan dengan label SOUL BEAUTY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOUL BEAUTY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2016

Ini 6 Alasan Kenapa Harus Pensiun Kepo Dengan Gosip dan Kehidupan Orang Lain

HIJABERSWORLD.COM---Jika seandainya suatu ketika mendengar kabar bahwa : teman yang selama ini menjadi public figur ternyata seorang penyuka sesama lawan jenis, atau ustadz yang selama ini dihormati dikabarkan melakukan tindak kekerasan dengan seorang wanita, atau saat motivator yang selama ini dikagumi seperti Mario Teguh yang diisukan tidak mengakui anaknya sendiri.

Nah, apa yang ada dipikiran? Mencari tahu lebih dalam untuk mengetahui kebenaran kah atau berhenti cukup sampai di situ saja? 

Mari berhati-hari menjaga hati, sebuah berita dan keadaan seringkali menjerumuskan kita. Salah satu sifat yang umum bertengger dalam diri kita adalah rasa penasaran atau dikenal dengan kepo pada masa sekarang sebagai istilah bahasa gaul ala anak muda. Nah, rasa kepo ini kadang tumbuh begitu besar. Sedikit-sedikit intip media sosial orang untuk mengetahui apa yang terjadi.  Atau korek-korek informasi dari orang yang mengenalnya. Ingin tahu gosip terbaru plus terhangat.

Terus kalau sudah dapat gosip yang lagi tren, biasanya tidak akan lepas dan tuntas  sampai di situ saja. Tanpa sadar akan terdorong mencari tahu apa dan bagaimana sebuah gosip tersebut. Penasaran apa benar atau tidak, mengapa terjadi, bagaimana kelanjutannya dan lainnya. Coba direnungkan, bukankah memang kadang benar demikian? Inilah watak alami kita sebagai manusia yang ingin tahu tentang segala sesuatu yang menarik perhatian.

Ikut dalam lingkaran gosip pada faktanya lebih banyak menjerumuskan bahkan menyesatkan. Tentu kita sebagai muslimah harus lebih bijak dan mawas diri. Jika terbesit keinginan untuk mendalami sebuah gosip dan rasa penasaran dengan kehidupan seseorang, tunggu dulu. Ada baiknya, kita sama-sama renungi beberapa poin berikut ini dulu  setelah itu baru putuskan mau melanjutkan gosip dan kepo atau tidak :

1. Bahwa kita juga memiliki sesuatu yang  juga layak menjadi bahan gosip bagi orang lain

Pada dasarnya setiap orang memiliki privasi tertentu yang tidak bisa dibagi dengan orang lain. Sebagian orang mungkin punya rasa penasaran tinggi ingin mengetahui mendalam dan terperinci tentang masalah cinta, ekonomi, pekerjaan dan lainnya dari seseorang.  Namun, seringkali lupa bahwa diri kita sendiri juga mungkin memiliki keadaan dan kondisi yang juga dapat digosipkan orang lain. Saat kepo dan menggosipkan orang lain, pada saat bersamaan berarti kita telah membuka jalan bagi orang untuk mengorek tentang kehidupan pribadi kita.  

2. Diri sendiri saja belum sempurna iman dan kebaikannya, untuk apa mencari celah ketidaksempurnaan orang lain. 

Kadang kita tidak sadar apa tujuan kita dalam melakukan sesuatu.Secara psikologis, kepo pasti didukung oleh motif tertentu. Mungkin pikiran dan lidah dapat berkelit tapi hati tidak dapat menyangkalnya. Biasanya kepo didasari oleh motivasi ingin mengetahui  lebih detail tentang seseorang. Nah, sebelum lanjut kepoin orang, tanyakah hati “apa maksud dan niatku melakukan ini?”.

Jika terbesit ingin mengetahui kelemahan orang, urungkanlah karena kita tidak akan sempurna karena mengorek kehidupan orang. Kita tidak akan terlihat lebih baik saat mengetahui bahwa orang tidak jauh lebih baik dari kita. Kita tidak akan menjelma menjadi sosok luar biasa, gagah dan cerdas karena mencari celah kehidupan orang apalagi ikut serta menyiarkannya. Justru saat membicarakan orang lain kelihatan kita adalah orang yang kurang kerjaan dan tidak berkelas. Kita telah menghabiskan waktu untuk hal yang tidak menambah iman dan kebaikan tapi berpotensi mencuri kebaikan dan mengundang dosa.

3. Setiap orang memiliki aib. Jika kamu membuka aibnya, Allah akan membuka aibmu juga

Allah sudah berjanji bahwa siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya. Tutuplah aib orang sebanyak-banyaknya agar Allah menutup aib-aib kita. Semakin banyak aib orang yang ditutup, semakin bersihlah kita dari aib. Ini juga berlaku sebaliknya. Semakin banyak membuka aib orang, bisa saja semakin banyak pula aib kita yang akan terbuka. Akan ada saja cara bagi Allah untuk menunjukkan dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan dihadapan manusia lainnya.

4. Daripada sibuk mengurus orang, lebih baik mengurus kehidupan diri sendiri

Kita telah disibukkan pada sesuatu yang tidak memberikan kebaikan kepada kita bahkan dapat memberikan kerugian dalam berbagai hal. Jangan sampai kesenangan dan kekaguman sama seseorang malah menganggu ibadah, silaturahmi, mengurangi produktifitas kerja apalagi sampai menjerumuskan pada dosa. Bila sebagian besar waktu telah tersita oleh keinginan untuk mengetahui dan melihat perkembangan gosip berhati-hatilah.

5. Jika kamu mengetahui sesuatu yang buruk, yakin akan  tahan menutup mulut?

Meskipun ada sebagian kecil kepo yang berimplikasi positif tapi umumnya sebagian besar kepo seringkali berujung pada sifat dan tindakan negatif. Mungkin awalnya hanya rasa penasaran, lama kelamaan ikut terbawa dalam pusaran kabar berita.

Kepo kadang lebih sering menjerumuskan pada sifat buruk seperti bergunjing dan memfitnah.
Jika kemudian menemukan fakta buruk mengenai seseorang, kira-kira apa yang akan dilakukan? Sanggupkah menutup mulut untuk tidak memberitahu siapapun? Godaan bergunjing itu cukup besar dan sulit menahannya terlebih bagi kita yang kadar iman masih lemah. Daripada menimbulkan ketidaknyamanan dan menambah noda hitam di hati, lebih baik dihentikan dan dipotong saja sejak awal.

Saat timbul keinginan mencari tahu tentang urusan pribadi orang lebih dalam, langsung saja urungkan dan berhenti. Sudah banyak di berbagai tulisan membahas panjang lebar tentang gosip dalam Islam, hukum membicarakan orang lain, pengertian ghibah atau gosip serta bagaimana dalilnya dalam ayat Al-Qur’an serta Hadits.  Salah satu ayat yang perlu direnungkan adalah QS.Al-Hujurat ayat 12.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

6. Ah, apakah kepo dan rasa penasarannya begitu berharga sehingga mengalokasikan waktu?

Kepo dan gosip kadang menjadi satu paket. Orang yang sedang dilanda kepo, pastilah dia akan mengikuti gosip terbaru. Gosip memang sudah menjadi salah satu hal yang beredar di tengah kita baik offline maupun online. Mengikuti perkembangan gosip terbaru kadang membuat sebagian orang menjadi modern dan up to date dalam informasi. Kemudian dicarilah gosip hot dan terkini tentang selebritis seperti Ayu Ting Ting, Raffi Ahmad, Dewi Persik atau aktor Korea seperti Lee Min Hoo.

Apakah ada yang salah dengan kegiatan tersebut?Bukankah itu suka-suka kita. Memang, kita memiliki hak untuk melakukan sesuatu tapi coba kita tanya diri kita “ apakah menyimak gosip kehidupan peribadi orang begitu berharga sehingga kita menghabiskan banyak waktu khusus untuk mengikutinya?”. Ini tidak hanya gosip selebritis tapi juga tentang teman sekantor, teman semasa kuliah, atasan dan lainnya. Menyukai seorang public figur tidak masalah asalkan masih dalam koridor Islam.

Rasa penasaran tidak salah selama diarahkan untuk tujuan yang benar. Umpamanya penasaran dalam suatu bidang ilmu yang kemudian mengantarkan pada karya. Penasaran dengan kebutuhan hidup masyarakat yang kemudian menimbulkan ide bisnis.  Atau penasaran dengan perubahan seseorang untuk membantunya menjadi lebih baik bukan sekadar mengorek-ngorek keburukan dan kelemahan orang. Apalagi berpuas diri dan merasa bangga bisa tahu aib orang.

Penasaran-penasaran yang bersifat konstruktif atau membangun harus diciptakan sebanyak-banyaknya. Sebaliknya, rasa penasaran yang akan menghancurkan (desktruktif) harus dijauhi, sejauh-jauhnya. Jika tidak, hal yang dianggap biasa dan sepele tersebut akan menjerumuskan. Kepo juga bisa membuat seseorang terjatuh pada sifat prasangka buruk atau suudzon.

Biarlah kehidupan orang menjadi milik orang, kehidupan kita menjadi milik kita.  Aib mereka tetap milik mereka dan aib kita menjadi milik kita. Daripada kepo dengan manusia, lebih baik kepo (mengenal) diri sendiri agar lebih mengenal Tuhan kita atau kepo dengan segala kebesaranNya sehingga bertambahlah kecintaan kepadaNya. Mari pensiun dengan rasa kepo sesama manusia, jangan dianggap sepele karena kepo dan lingkaran gosip dapat menjadi dosa jariyah atau dosa yang mengalir terus menerus. Yuk belajar dan berlatih bersama-sama. [HW/Elshabrina]

Rabu, 10 Agustus 2016

Pelajaran Sederhana Dari Pengemis Tua Ini Bakal Buat Hidup Lebih Manis dan Bermakna



Beberapa minggu yang lalu ketika hendak keluar dari rumah, saya mendengar bapak angkringan yang gak jauh dari pintu masuk gang di depan rumah sedang berbicara dengan seseorang. Suara mereka agak nyaring, jadi percakapan bisa saya tangkap dengan jelas.

" Semoga laris ya, permisi," seseorang mengeluarkan suara yang tidak saya kenali siapa pemiliknya.

Rumah saya sekitar 7 meter dari lokasi. Begitu sampai di jalan utama, saya hanya menemukan si bapak penjual angkringan. Juga ada beberapa pemuda yang sedang duduk di lesehan sambil menikmati gorengan dan minuman. Saya pun jalan lurus arah ke pasar bersama keluarga karena ada beberapa perlengkapan yang harus kami beli di Pasar Lempuyangan.

Ketika saya memandang ke depan, sekitar 5 meter dari saya, saya melihat sosok "yang agak aneh". Kiri kanan membawa kantong dan di punggungnya juga ada sebuah plastik putih besar yang bentuknya bulat. Dari jauh saya memahami bahwa plastik itu sepertinya berfungsi sebagai tas.

Terlihat dari belakang kepala seseorang yang dipasang kupluk, pakai jaket hitam tebal, celana dan sendal yang sedikit lusuh. Orang itu seperti kesulitan membawa barang-barangnya. Terlihat berjalan sempoyongan. Saya dan adik mempercepat langkah. Kami mendekat untuk melihat apa yang terjadi.

Awalnya saya khawatir karena takut orang itu merasa terganggu.Tapi melihat dia jalan terseok-seok, kami memberanikan diri. Saya berjalan di sampingnya dan memandang sambil menyelidik siapakah gerangan. Ternyata seorang bapak tua.

" Bapak mau ke mana,"kata saya
" Sepertinya barang bapak banyak sekali, biar kami bawakan sebagian," belum dijawab saya sudah menambahi
" Oo, saya mau ke suatu tempat tidak jauh dari sini. Saya mau tidur di sana," katanya
" Ini yang dipunggung saya pakaian dan ini kardus untuk alas tidur saya nanti. Ini ringan kok. Tidak apa-apa, tidak usaha dibantu. Saya selalu menenteng ini setiap hari menuju tempat saya numpang tidur,"dia menjelaskan sambil tersenyum.

"Anak orang Sunda ya?" dia bertanya.
" Saya Sumatera pak, "jawab saya.
"Sudah lama di sini, mustinya harus bisa bahasa Jawa," dia berusaha bercanda.
"Iya pak, sudah 5 tahun masih ora iso pak tapi lumayan paham kalau ada yang ngomong,"saya membalas candanya sambil tertawa.

Saya jadi kaget dan tertarik untuk ngobrol terus karena wawasannya cukup luas. Saya akhirnya menyadari bahwa suara bapak ini lah tadi yang saya dengar di angkringan itu, pemilik suara yang mendoakan agar jualan bapak angkringan laris.

Ternyata, bapak itu berasal dari Sukoharjo dan saya kurang menangkap apa, mengapa kenapa dia di sini. Saya merasa tidak enak sampai menanyakan hal itu. Tapi dia bilang setiap hari dia melewati jalan dekat rumah saya dari Alun-Alun Yogyakarta.

"Semoga anak selalu sehat dan murah rezeki," katanya tiba-tiba.
"Amin. Semoga bapak juga," jawab saya dan terharu dia juga mendoakan saya meski ketemu di jalan.
"Oya, saya harus berhenti dan duduk di sana. Saat ini lokasi tidur saya baru dipakai untuk jualan. Kalau pedagang belum pulang, saya belum bisa tidur di sana," tambahnya.
"Semoga sehat selalu dan lancar urusannya nak," katanya sekali lagi menutup pembicaraan.

Sekilas mungkin orang berpikir dia seorang pengemis atau bahkan orang yang kurang waras. Pakaian yang kumal dan kulit yang kotor. Tapi bapak tersebut memiliki prinsip hidup yang kuat dan saya yakin sekali dia akan tersinggung kalau diberi uang. Walaupun tidak punya rumah dan numpang tidur di pasar dengan beralaskan kardus tapi dia tidak memelas dan meminta agar dikasihani.

Dia selalu tersenyum dan merasa sama seperti orang lain. Percaya diri dan tidak seperti orang yang memiliki kekurangan. Cara-caranya berbicara juga "terpelajar". Dia juga mendoakan setiap orang yang ditemui meskipun ia tidak mengenalnya.

Air mata saya sempat berlinang dan kagum sama bapak itu. Meskipun menenteng kardus untuk alas tidur dan menjinjing lemari pakaian plastik tiap hari karena tidak punya tempat tinggal, dia merasa bahagia menjalani bahkan tidak mau dibantu oleh orang lain. Sampai di rumah pun, saya masih ingat dengan kejadian dan pertemuan tersebut.

Tiga hari kemudian, saya berjalan bersama orang tua di lokasi yang sama. Saya melihat ke sebuah toko yang telah tutup dan di sana seorang bapak duduk sambil minum dengan seonggok barang yang terbungkus dengan plastik. Saya memanggil dari jauh dan dia melihat heran.

Setelah berpikir sejenak, dia melambaikan tangan sambil tersenyum. Ini adalah kedua kalinya saya ketemu dengannya. Orang tua saya sempat berpikir untuk menawari bantuan apa yang bisa kami bantu, misalnya menawarkan salah satu kamar di kontrakan kami. Namun, bapak itu sendiri tidak merasa memerlukan bantuan dari seseorang.

Kadang "dengan melihat penampilan" seseorang dengan pakaian yang kumal dan terlebih ketika mengetahui  status seseorang adalah tunawisma atau gelandangan, rasa kasihan itu muncul. Kita berpikir mereka membutuhkan bantuan karena tidak jarang kita melihat "orang yang senada" mengemis dan meminta-minta.
.
Berbeda dengan bapak yang satu ini. Hari ini saya menyadari bahwa masih ada orang yang meski pun luntang lantung di jalanan tapi lebih memilih hidup dengan cara terhormat. Bukannya meminta tapi malah berusaha memberi dengan mendoakan kebaikan untuk setiap orang yang ia jumpai. Kisah inspirasi sederhana ini cukup mengetuk batin saya tentang cara menjalani hidup dengan sukacita.

Memang benar apa yang dikatakan oleh salah seorang kenalan saya bahwa " manisnya hidup itu kita yang tentukan." Meski tidak memiliki poin-poin yang diyakini umum menjadi syarat hidup gembira, seorang bapak tua mengajarkan makna bahwa keindahan hidup ditentukan cara pandang kita.

Bagaimana dengan kita selama ini?

Jika seorang bapak tua gelandangan dapat merasakan manisnya kehidupan dan masih menebarkan manfaat, apakah kita yang punya rumah untuk bernaung begitu sulit bahagia? Mari bersyukur seperti apapun hidup kita. [ HW/Fitzel ]

Sabtu, 30 Juli 2016

Menuntut Ilmu dan Bekerja Di Lingkungan Minoritas Muslim ? Lakukan 6 Hal Ini Dalam Menjaga Hari-Hari Tetap Religius

HIJABERSWORLD.COM---Keyakinan memang sesuatu yang tertancap secara kuat di dalam sanubari. Dalam perjalanannya, iman manusia terkadang naik turun. Penyebab iman yang bergelombang bisa persoalan hidup, pergaulan dan juga dipengaruhi oleh lingkungan. Tinggal di lingkungan muslim, nuansanya masih religius dan islami. Saat diri terlena, secara tidak langsung ada reminder. Azan masih terdengar, melihat orang berbaju muslim, pamflet ceramah agama bertebaran dan sebagainya.

Namun, berbeda bila  tinggal di lingkungan yang mayoritas non muslim di mana kegiatan Islam tidak menonjol bahkan jarang terlihat. Kalau ingatan dan jiwa tidak kuat pada cahaya Ilahi, bisa-bisa lingkungan dan kesibukan sehari-hari membuat iman semakin melemah. Apalagi dikelilingi oleh teman pergaulan yang berbeda agama dan kurang memberikan dukungan. Sedikit-sedikit berkurang keinginan ibadah dan akhirnya terbiasa meninggalkannya. Sudah tidak lagi khawatir meninggalkan kewajiban. Bahaya karena akan semakin terlena, jauh dari tempat yang dirindu yaitu surga.

Muslimah sedang mengaji. Photo via instagram/aimeeananda



Jika di lingkungan muslim kita masih dituntut menjaga ibadah, di lingkungan non muslim tentu harus lebih ekstra menjaga keimanan dan ibadah. Bagi Sobat yang merantau ke kota yang jauh dari nuasa Islam baik dalam rangka mencari rezeki maupun menimba ilmu, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan agar tidak mengalami penurunan dalam intensitas ibadah dan rasa religiusitas :

1. Jangan Terlalu Jauh Tinggal Dari Mesjid
Terlalu jauh tinggal dari kawasan muslim sedikit riskan karena telinga sudah tidak lagi terasupi kalimat azan. Jarang melihat orang pergi shalat.  Jika hati masih sehat, pasti ada bedanya antara tinggal di daerah yang berdiri mesjid dengan area yang tidak ada mesjid sama sekali.

Meskipun Islam menjadi minoritas dalam sebuah kota atau negara, pasti tetap ada daerah yang dihuni oleh keluarga Muslim. Biasanya di lingkungan sekitar masjid  pasti ada beberapa pemeluk Islam. Jika memungkinkan carilah kost dan rumah kontrakan yang dekat dengan lingkungan Muslim agar Sobat tetap merasa berada di kampung halaman di mana nuansa Islam kuat terasa.

Biasanya di lingkungan masjid juga terdapat para pedagang yang menjual makanan dan perlengkapan muslim. Hal ini tentu menguntungkan dan membantu dalam menjaga kehalalan makanan yang akan masuk ke dalam tubuh. Di daerah non muslim tentu harus lebih selektif memilih makanan karena makanan halal tidak pasaran. Sebaliknya, makanan dan minuman haram mungkin bertebaran di mana-mana.

2. Miliki Sahabat Dekat Saudara Seiman
Sebagaimana petuah bijak pernah mengatakan bahwa kita adalah dengan siapa dengan berkawan. Bergaul dengan teman-teman non muslim tidak masalah asal tidak menganggu akidah dan merusak pada keyakinan pada agama. Selain, harus menjaga adab bergaul dengan non muslim, sebaiknya hanya berurusan dengan persoalan kuliah dan kerja saja. Tidak masuk dalam wilayah agama seperti berdebat hebat dan diskusi antar agama. Terlebih kalau ilmu agama Sobat masih dangkal. Bisa-bisa malah goyah.

Namun, akan lebih baik kalau Sobat berhasil menemukan seorang sahabat dekat sesama muslim. Selain sahabat dari Indonesia, mungkin ada sahabat muslim dari negara timur tengah, turki, pakistan, malaysia dan lainnya. Hal yang menjadi catatan adalah sahabat dekat tersebut adalah pribadi yang punya semangat menjalankan ajaran Islam. Selalu terdorong untuk meningkatkan diri sebagai seorang pemeluk Islam.

Bukan sahabat muslim yang perilakunya tidak mencerminkan akhlak dan akidah seorang muslim. Seperti itu bukannya memberikan inspirasi dan reminder tapi sebaliknya. Iman yang lemah bertemu dengan iman yang lemah akan semakin parah keadaannya.

3. Buat Alarm Jadwal Shalat 5 Waktu
Kalau tidak memungkinkan tinggal di lingkungan yang dekat dengan masjid, buatlah suana religius sendiri. Misalnya membuat alarm pengingat waktu shalat dengan nada azan. Dengan demikian, setiap jam shalat akan terus mendapatkan reminder shalat dengan suara azan di smartphone.

Tempelkan juga jadwal shalat di kamar sehingga setiap akan tidur dan bangun selalu melihatnya. Ini akan menjadi kebiasaan yang positif. Bagaimanapun, manusia seperti apapun merasa tinggi imannya tetaplah manusia yang punya kelemahan. Indra yang dimiliki kadang tidak dapat difungsikan  secara maksimal karena dipengaruhi oleh nafsu dan masalah dunia. Cara ini memang kelihatan sepele tapi jangan takabur. Langkah yang dianggap simpel dan tidak berguna dampaknya bisa saja besar.

4. Temukan Tempat Untuk Ibadah 
Jika mengikuti kuliah di universitas di luar negeri yang umumnya kurang mendukung persoalan ibadah, melakukan shalat lima waktu di kampus mungkin sedikit kelabakan. Mesjid yang jauh dari lokasi dan juga tidak ada ruangan shalat khusus. Apakah harus menyerah dan pasrah dengan keadaan yang tidak berpihak untuk menjaga ketaatan tersebut?

Kalau memungkinkan, usahakanlah mencari tempat yang sepi dan nyaman untuk melakukan shalat beberapa saat. Dalam proses kuliah tatap muka, mungkin bisa izin sebentar. Begitu juga, kalau bekerja di perusahaan atau lembaga yang mana stafnya tidak ada seorang muslim. Pasti kantor tidak didukung oleh tempat ibadah. Jadi, pandai-pandailah bagaimana membangun iklim yang mendukung.

5. Tetap Kasih Makan Rohani 
Bekerja mungkin dari pagi sampai sore. Mulai matahari terbit sudah siap-siap dan sampai di rumah saat matahari terbenam. Mungkin kuliah juga kurang lebih begitu keadaan waktunya.  Sama seperti perut yang lapar dan butuh dikasih makan. Rohani juga membutuhkan nutrisi, kalau tidak akan sakit. Bentuk rohani yang sakit adalah mati rasa, jauh dari hidayah dan tidak takut meninggalkan ibadah.

Berhubung tinggal di daerah yang minoritas penduduk muslim, mungkin event Islam juga sangat minim. Akan tetapi, hal tersebut bukan halangan untuk menjaga kesehatan jiwa dan memberi makan rohani. Sekarang sudah modern, semua informasi tersedia cuma-cuma secara online.  Sobat dapat mengikuti tausiah dan ceramah online dari pemuka agama. Mendownload via youtube akan lebih baik sehingga akan lebih mudah menangkap dibanding suara atau membaca.

6. Ikutlah Komunitas Muslim
Selain menemukan sahabat dekat sesama muslim, lengkapi silaturahmi dengan cara bergabung dalam sebuah komunitas yang diisi oleh orang Islam. Jalinlah persahabatan melalui komunitas muslim di daerah tersebut. Kalau punya teman satu kampung atau satu negara tentu sedikit melegakan. Berbeda kalau sendirian. Riskan kalau sama sekali tidak terhubung dengan organisasi keIslaman.

Sekarang sudah banyak komunitas muslim yang go online baik nasional maupun international. Pilihlah satu atau beberapa. Kemudian temukan sahabat berbagi dan inspirasi dalam menjaga ibadah. Di banding komunitas online, komunitas offline sebaiknya diutamakan. Lebih nyata dan bisa bertatap muka. Merencanakan sebuah acara amal, ceramah, tadarus dan lainnya. Di samping itu, juga tidak ada salahnya memiliki komunitas dan acara amal untuk mengasah kepekaan sosial.

Pengaruh lingkungan kepada kepribadian seseorang tidak dapat dipungkiri. Tentu juga berlaku dalam hal keimanan.  Jangan biarkan lingkungan yang kurang bersahabat melemahkan iman dan ibadah. Jangan sampai kesempatan menuntut ilmu dan bekerja di negeri non muslim malah tidak berkah karena penurunan kedekatan dengan Pemilik Kehidupan. [ HW / Fitzel ]

Kamis, 09 Juni 2016

Ketahuilah 4 Pertanda Ini Berarti Hatimu Telah Sakit, Akan Mati Bila Tak Segera Diobati

HIJABERSWORLD.COM----Kemanakah semua perasaan bermuara? Kenapa kita merasakan manisnya kebahagiaan dan kenapa kita merasakan pahitnya kesedihan? Kenapa kita merasakan damainya keimanan, kenapa kita merasakan takut, kenapa kita merasa gelisah? Kenapa kita mempunyai berbagai macam perasaan?

Hati sakit perlu diobati agar tidak semakin sakit. Photo via mycalling.org


Sebab sebagai makhluk paling sempurna, Allah menempatkan sebongkah daging dalam diri kita. Sebongkah daging tempat bermuaranya berbagai perasaan, sebongkah daging yang padanyalah segala penilaian hakiki, sebongkah daging yang akan membentuk manusia menjadi manusia. Sebongkah daging itu adalah hati.

" Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada sebongkah daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggotanya. Jika sebongkah daging itu rosak dan kotor, maka kotor dan rusaklah seluruh anggota badannya. Dan daging yang dimaksudkan ini adalah hati."(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Bukan rupa, harta atau tahta yang menjadi dasar penilaian manusia di dunia, melainkan hati. Di hatilah tertancap iman, di  hatilah penentu baik atau buruknya seseorang. Hatilah yang menjadi pengendali perbuatan dan membentuk kepribadian manusia. Karena itu, maka hati seharusnya mendapatkan penjagaan paling utama dalam diri manusia.

Sesungguhnya Allah swt itu tidak melihat kalian dari rupa dan harta-harta kalian, namun Allah swt melihat kalian dari hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Sekilas Tentang 3 Kondisi Hati Manusia
Pada dasarnya,  manusia dapat mengalami tiga kondisi hati yaitu, Qalbun Salim, Qalbun Mayyit dan Qalbun Maridh.

Pertama, Qalbun Salim
Qalbun salim atau hati yang sehat merupakan kondisi hati yang benar-benar merasakan manisnya keimanan pada Allah. Segala tindak tanduknya hanya untuk Allah. Ingatannya setiap saat terpaut pada Allah. Kondisi ini ditandai dengan kuantitas dan kualitas ibadah pemilik hati tersebut yang begitu baik. Hati yang sehat akan sangat takut ketika ibadahnya terlewatkan apalagi  melakukan dosa. Hati yang sehat akan bergetar, akan syahdu bila dibacakan ayat Al-Quran.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal (berserah diri).” (QS. Al-Anfaal: 2)

Kedua, Qalbun Mayyit
Qalbun Mayyit merupakan istilah untuk hati yang telah mati. Ini merupakan kondisi hati yang benar-benar tidak lagi mempunyai iman. Sedikitpun tidak ada getaran iman di dalamnya. Hati yang mati bahkan tidak merasakan sedikitpun rasa takut saat jauh dari Allah, saat tidak menjalankan perintah Allah. Hati yang mati hanya diliputi oleh hawa nafsu dan tunduk padanya tanpa sedikitpun lagi mengingat Allah.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.” (QS. Al Jaatsiyah : 23)

Ketiga, Qalbun Maridh
Qalbun maridh yaitu istilah bagi hati yang sakit. Kondisi hati ini berada antara hati yang sehat, masih tahu Allah namun sudah hampir mati karena imanya tidak lagi bersungguh-sungguh. Kondisi hati yang sakit ini lah tampaknya yang paling banyak dialami manusia, baik disadari meskipun tidak.

Bahayakah tentu! Sebab jika tidak kita segera obati hati yang sakit ini, hati tersebut bisa benar-benar mati, tertutup, berkarat hingga tiada lagi sinarnya, tiada lagi gunanya, merugi pemiliknya. Celaka hidupnya, baik di dunia maupun akhirat. Berikut akan dibahas lebih lanjut tentang tanda-tanda hati yang sakit.

Tanda-Tanda Sakitnya Hati
Secara umum, ada tiga tanda hati yang tidak lagi sehat alias sakit. Tanda-tanda tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Tidak Takut Berbuat Dosa
Tanda pertama hati yang sakit adalah tidak adanya kecemasan dan penyesalan saat melakukan dosa. Tidak seperti yang hatinya sehat yang begitu cemas meninggalkan dosa, kita yang sakit hatinya tidak sedikitpun merasa cemas seakan-akan tidak akan ada penghisaban di akhirat kelak.

Jika kita sudah tidak lagi peduli waktu shalat yang sudah masuk, aurat terbuka, kurang tertarik mengerjakan perintah Allah maka waspadalah, hati kita mungkin sudah diserang virus penghisap iman.
Jika tidak ada lagi rasa bersalah saat menyakiti seseorang, tidak ada ittikad meminta maaf, berkata dan berbuat menyakitkan maka mungkin hati kita sudah mempunyai gejala berpenyakit.

Kedua, Tidak Merasakan Lezatnya Ketaatan Karena Jauh Dari Allah
Ketaatan beribadah juga tidak akan terasa apabila hati sudah sakit. Tidak ada lagi rasa tenteram dan tenang saat melaksanakan shalat, sebab hati sudah tidak ikhlas. Tidak ada lagi ketergantungan dan kebutuhan untuk melaksanakan ibadah. Kalaupun ada mungkin hanya karena alasan tertentu bukan karena Allah. Tidak ada lagi getar di hati saat Al-Qur’an diperdengarkan sebab hati telah lupa bacaan Al-Quran tersebut adalah surat cinta Allah.

Hati yang sakit mulai jauh dari Allah sehingga jangankan mengerjakan segala sesuatu semata-mata karena Allah, menyertakan Allah saja sudah dirasa perlu. Hanya menurut fikiran, ego dan nafsu.

Ketiga, Enggan Belajar Agama Dan Memilih Beragama “Biasa-Biasa” Saja
Pernahkah kita merasa tidak perlu belajar agama? Merasa cukup dengan sedikit ilmu agama dan bahkan takut mempelajari agama lebih lanjut dengan alasan tidak mau beragama dengan ekstrim. Beragama yang biasa-biasa sajalah, begitu istilah yang kita dengar.

Astagfirullah Sobat, itu artinya kita pasrah dengan kurangnya ilmu agama, membiarkan diri bodoh dengan kebenaran, membiarkan diri tidak belajar lebih dalam. Bukankah itu artinya kita tidak terlalu mencintai agama kita? Seseorang yang mencintai sesuatu pasti ingin belajar segalanya tentang sesuatu tersebut.

Bagaimana mungkin kita bilang mencintai Islam, mencintai agama kita, mencintai kebenaran sedangkan kita tidak berusaha mempelajarinya. Bagaimana mungkin kita bilang mencintai agama sedang kita merasa puas dengan sedikit informasi yang kita dengar dari sedikit sumber.

Mempelajarinya terlalu dangkal?
Masihkah kecintaan kita terhadap agama masih utuh? Masihkah hati masih tulus mencintai agama? Jangan-jangan hati kita sudah rusak Sobatku. Orang yang membiarkan dirinya bodoh dan tidak mau menggali ilmu bukankah ada yang salah dengan hatinya. Astagfirullah, semoga kita tidak ya Sob.

Keempat, Jarang Membaca Atau Mendengarkan Ayat Al-Qur’an
Secara jelas Allah telah berfirman, salah satu ciri hati yang beriman adalah bergetar hatinya mendengarkan ayat Al-Qur’an. Ayat Al-Qur’an sungguh luar biasa, bahkan juga bisa menawar rasa sakit. Bagaimana jika telinga malah tidak suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an? Bagaimana jika Al-Qur’an dibiarkan berdebu tanpa dibaca. Sungguh sudah berkurang iman di dalam dada kita Sob.

Serajin apapun kita shalat, puasa, dan ibadah lainnya, namun tidak pernah membaca Al-Qur’an, sungguh betapa diragukannya keimanan kita sebab pada Al-Qur’anlah segala peraturan hidup di dunia itu dituliskan. Wallahu alam.

Itulah 4 tanda utama hati yang sedang sakit. Terkadang mungkin kita tidak menyadarinya sehingga kita masih berfikir hati masih baik-baik saja padahal hati sedang menuju mati. Semoga kita segera bisa menyadari jika gejala hati yang sakit sudah muncul dan segera memperbaikinya untuk mencegah hati menjadi mati dan kembali agar hati menjadi sehat. Yuk, jaga hati kita tetap hidup. [HW/Yefra Desfita Ningsih]


Sabtu, 14 Mei 2016

Sering Kecewa dan Sakit Hati?Ini 8 Tips dan Obat Untuk Mengatasinya

HIJABERSWORLD.COM-----Pernahkah Sobat merasakan sebuah kekecewaan? Apa gerangan yang membuat Sobat kecewa? Mimpi yang  tidak terwujudkah? Keinginan yang tidak terpenuhi? Tindakan seseorang yang tidak mengena di hati? atau bahkan kecewa dengan ketentuan takdir Allah? Memang banyak sekali hal yang bisa menjadi faktor  munculnya perasaan kecewa di dalam hati.

Hati yang kecewa dan terluka.Photo via sohp.com


Pada dasarnya kekecewaan terjadi saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Itulah kecewa. Bukankah banyak sekali harapan-harapan kita yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan?. Sebagaimana banyak yang bilang, kita boleh berencana, namun Allah yang  menentukan hasilnya.

Apakah semua orang pernah kecewa?
Tentu, semua orang pernah kecewa. Allah bahkan menguji kita dengan rasa kecewa. Bedanya adalah ada yang larut didalamnya hingga menjadi keluhan, ada pula yang menyikapinya dengan mengambil pelajaran.

Kecewa seringpula diikuti oleh sakit hati, bahkan tidak jarang menjurus pada kebencian. Dua hal ini, baik kecewa maupun sakit hati akan menyebabkan timbulnya kegelisahan di dalam hati, sesak di dada dan bahkan tidak jarang pula menimbulkan sangkaan buruk yang semakin menggelisahkan jiwa.

Lalu bagaimanakah  menanggapi rasa kecewa dan sakit hati dalam Islam?
Mudah-mudahan tips dan kiat-kiat ini bisa membantu ya Sob :

Pertama, banyaklah mengingat Allah dengan berzikir 
Pernahkan Sobat mendengar atau membaca sebuah firman Allah tentang rahasia ketenangan hati? Salah satunya adalah firman Allah yang terdapat pada Al-Qur’an  surat Ar-Ra’d ayat 28 :

Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28)

Secara gamblang Allah telah berfirman bahwa hati yang tenteram hanya dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa mengingat Allah. Beberapa orang mungkin akan mengambil liburan entah menonton film komedi, liburan ke tempat wisata, kumpul-kumpul dengan teman dan berbagai hal untuk menenangkan diri.

Namun hati adalah kepunyaan Allah. Bibir mungkin bisa tersenyum, tertawa namun jiwa belum tentu tentram dan tenang. Sekejap saja tawa bisa hilang jika fikiran kosong. Karena itu, penuhi hati dan jiwamu dengan mengingat Allah.

Kedua, belajarlah untuk selalu memaafkan
Kenapa kecewa bisa datang? Kenapa hati terasa disakiti? Sebab hati tidak bisa menerima sikap, perbuatan atau perkataan seseorang. Ya benar, siapa tidak tersakiti harapan tidak sesuai keinginan.

Setegar-tegarnya manusia, sekuat-kuatnya ia, hati tetaplah hati tempat segala rasa bisa terjadi baik rasa tersakiti, terzalimi, atau terhina. Lalu bagaimana? Maaf. Maaf adalah kunci berikutnya untuk menghilangkan segala ganjalan di hati.

Belajarlan untuk memberi maaf, entah itu karena suatu masalah sederhana ataupun kekecewaan yang dalam sekalipun. Maaf membuka rongga dalam hati hingga terasa lebih lega dan lapang. Maka jadilah pemaaf yang berjiwa besar dan lapang agar kecewa dan sakit hati tidak menetap berlama-lama di dalam hati.

Ketiga, senantiasa berfikir positif
Cara selanjutnya untuk menghindari sakit hati adalah selalu membiasakan untuk berfikir positif. Gelisah siapa tak gelisah, cemas juga merupakan hal yang wajar, rasa marah, benci pun silih berganti datang.

Kenapa hal itu bisa terjadi?
Salah satu penyebabnya adalah fikiran kita Sobat. Terkadang kita terlalu mencoba menerka-nerka, berasumsi dan menarik kesimpulan dari apa yang terjadi. Sayangnya yang lebih banyak adalah asumsi-asumsi negative seperti rasa tersakiti, dirugikan dan berbagai hal lainnya yang membuat kita seolah benar-benar korban. Kita terlalu berfikir negatif. Hal ini akan sangat berbahaya dan bisa merusak hubungan baik menjadi rusak, dan hubungan yang sudah rusak menjadi hancur.

Berilah ruang buat akal dan hati kita untuk berfikir lebih positif, percaya bahwa semua yang terjadi adalah rencana Allah, bahwa semua yang terjadi entah itu kekecewaan ataupun sakit hati adalah sebuah ujian dan pembelajaran. Saat seseorang menyakiti, cobalah berfikir "oh barangkali dia sedang khilaf, barangkali dia lupa, barangkali dia sedang banyak masalah, dan barangkali-barangkali yang positive lainnya." Dengan demikian tidak akan ada kecewa dan rasa sakit bersarang di hati.

Keempat, perbanyak ibadah-ibadah sunnah
Sebagaimana telah disebutkan pada poin pertama, bahwa hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenang yang mana salah satu medianya adalah berzikir dan selalu menyertakan Allah dalam setiap helaan nafas. Selain zikir media konkrit lainnya adalah dengan mendekatkan diri pada Allah.

Bagaimana caranya?
Tingkatkan ibadah. Sempurnakan ibadah wajib dan perbanyak ibadah-ibadah sunnah lainnya seperti shalat dhuha dan tahajud. Semakin banyak ibadah yang dilakukan semakin banyak kesempatan untuk mengingat Allah secara khusuk. Hal ini akan membuat hati yang kecewa menjadi lebih tenang, dan sakit hati menjadi berkurang.

Kelima, perbanyak puasa
Kontrol emosi dan perasaan dengan menjalankan ibadah puasa. Sebagaimana kita tahu bahwa salah satu hikmah puasa adalah sarana untuk belajar mengontrol diri dari segala hal buruk baik berupa perbuatan perbuatan bahkan fikiran. Dengan berpuasa maka kita tidak diperkenankan menyimpan dendam, kecewa, marah dan kebencian sebab hal tersebut bisa merusak pahala puasa.

Keenam, isi hari-hari dengan Al-Qur’an
Tahukan kenapa Al-Qur’an disebut mukjizat paling besar di dunia? Sebab selain pedoman bagi keselamatan hidup dunia dan akhirat, Al-Qur’an menyimpan rahasia-rahasia luar biasa yang sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia. Salah satunya adalah penentram hati, penawar rasa sakit.

Allah berfirman :
Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (Q.S. Al-Israa’ [17]: 82)

Ketujuh, ingat segala kebaikannya
Sebuah pepatah mengatakan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Nah, hal itu juga sering terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena sebuah kesalahan,sahabat bahkan bisa terlihat seperti musuh.

Sangat disayangkan bukan?
Sebuah persahabatan yang sudah kita jalin bertahun-tahun harus berhenti hanya karena salah paham, atau karena sedikit kesalahan?.
Sebuah kekeliruan seketika menutupi semua kenangan dan kebaikan yang pernah ada.

Mari kita ubah mindset kita Sobat. Saat kekecewaan itu terjadi cobalah untuk lebih bijaksana dengan mengingat segala kebaikan. Jadikan kebaikan dan kenangan indah tersebut sebagai penutup kesalahan orang yang membuatmu kecewa.

Jadikan kenangan dan kebaikan tersebut sebagai alasan kenapa seseorang tersebut berharga dan sangat pantas dimaafkan. Susu sebelanga yang terkena setitik nila, tetap saja susu bukan? Warnanya saja yang sedikit berubah.

Kedelapan, berdoalah pada Allah
Bagian yang terakhir, mintalah pertolongan Allah untuk menghapus rasa-rasa negative tersebut. Berdoalah pada Allah sambil memohon ampun atas perasaan tersebut dan memohonlah padaNya dengan merendah diri. Segala sesuatu berlaku atas izin Allah. Termasuk dalam menghilangkan gundah resah dan gelisah didalam hati.

Semoga kiat-kiat diatas bisa membantu kita ya Sob untuk  mengatasi rasa kecewa dan sakit hati yang bisa saja muncul kapan saja selama kita hidup. Bersiaplah dan bijaksanalah mengatasinya hingga tidak menjadi keluhan, sakit hati, kebencian bahkan dendam.

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Rabu, 14 Oktober 2015

Turban Bayi : Membiasakan Anak Berhijab Sedari Kecil

HIJABERSWORLD.COM---Sebagai titipan dan amanah dari Allah, merupakan kewajiban mutlak semua orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama dan moral pada anak-anaknya. Bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik dan pendidikan formal saja, seorang anak juga berhak mendapatkan pendidikan ilmu agama dan akhlak langsung dari  orang tua.

Turban bayi. Photo via Pickles


Terutama bagi anak perempuan, salah satu masalah agama yang sensitif adalah mengenai penggunaan hijab. Semua umat muslim tahu bahwa hijab adalah sebuah kewajiban ketika seorang muslimah sudah mencapai masa akil baligh. Namun, sebagaimana yang kita tahu, hampir separuh wanita kenyataannya malah tidak menutupi aurat mereka dengan menggunakan hijab.

Melatih Anak Berhijab Sejak Dini
Televisi, pergaulan dengan sesama atau merasa cantik dengan tanpa hijab adalah faktor-faktor kenapa wanita menunda memakai hijab. Selain dari pada itu, orang tua sebenarnya adalah pemegang peranan penting dalam menanamkan nilai moral terhadap anaknya sedari kecil, termasuk mengenai penggunaan hijab. Jika dari kecil anak-anak sudah bisa dilatih memakai hijab, kenapa harus menunggu mereka baligh dulu? Nanti  dikhawatirkan mereka malah terlanjur nyaman dan merasa cantik dengan pakaian tanpa hijabnya.

Jangan kan dari usia anak-anak, pada usia bayi pun kita bisa mengajarkan agama terhadap anak, termasuk hijab. Jika dari kecil mereka sudah terbiasa, maka mereka akan akan merasa nyaman dengan berhijab dan tentunya akan menjadi karakter yang melekat padanya. Jika sedari kecil mereka sudah dibiasakan maka mereka akan menganggap hijab benar-benar sebagai suatu yang wajib  ada bukan sebagai pelengkap berbusana agar terlihat cantik semata.

Akhir ini dengan semakin berkembangnya hijab untuk anak, orang tua sudah mulai mengenalkan hijab kepada anak. Di kalangan selebritis, Oki Setiana Dewi misalnya, malah secara khusus merancang hijab untuk putrinya Maryam.

Bayi dipakaikan hijab? Apa tidak ribet? 
Sekarang, hijab sudah banyak macamnya. Tidak hanya orang dewasa saja yang bisa pakai hijab, tapi anak-anak juga bisa belajar berhijab sejak kecil. Hijab yang cocok dipakai sang bayi adalah hijab jenis turban. Hijab turban sangat simple dan mudah dipasang serta dilepas. Jadi, kalau anak merasa gerah atau kurang nyaman, mudah melepasnya.

Ketika kita kecil dulu, mungkin susah ya membedakan anak cewek dan cowok sepintas lalu  jika tidak pakai giwang karena rambutnya sama-sama pendek. Nah, kalau sekarang kamu tentu tidak kesulitan lagi dong? Karena umumnya bayi-bayi sekarang memakai aksesoris di kepalanya, seperti bandana maupun turban. Bayi bisa tampil lebih trendi dan modis dengan kreasi-kreasi turban bayi di kepalanya.

Seperti yang sudah kita bahas diatas, hijab dalam hal ini turban bayi merupakan salah satu cara membiasakan bayi beradaptasi dan terbiasa dengan hijab. Dari kecil bayi kita diperkenalkan untuk menutup auratnya dengan menggunakan hijab (turban bayi) sehingga ketika mereka beranjak dewasa, mereka sudah terbiasa.

Nah, jika demikian manfaat turban bayi apa sih?

Pertama, turban bayi adalah jenis hijab yang bisa kita jadikan sabagai sarana belajar anak dalam berhijab. Tidak ribet untuk memasangnya dan paling mudah. Memakaikan jilbab instan yang lain selain turban, meski tergolong simple tapi masih ribet dipasangkan ke bayi.
Kedua, turban bayi membuat penampilan bayi menjadi lebih trendy, modis, serta ceria. Siapa sih yang tidak suka melihat bayi tampak lebih cantik menawan, sejuk dipandang dan penampilannya mempesona? Semua orang pasti menginginkannya.
Ketiga, turban bayi bisa menjadi pelindung kepala dari panas atau benturan dari benda-benda keras. Jika kamu membawa bayi ke luar rumah, turban juga bisa menjadi pelindung.
Keempat, turban bayi bisa berfungsi sebagai penghangat juga. Jadi ketika bayi tidur, bayi merasa nyaman dan hangat.

Semakin hari semakin banyak saja model-model turban bayi yang terkadang membuat kita galau memilih. Berbagai model ditawarkan. Secara umum, model turban bayi ada yang berbentuk bandana, bentuk lapis, berbentuk pita turban rajut dan ada juga yang model instan yang sangat simpel tapi ceria dengan motif-motifnya.

Meski demikian, sebaiknya pilihlah turban dengan bahan yang ramah dengan kulit bayi. Turban berbahan lembut, sejuk dan tidak kasar sehingga bayi merasa nyaman memakainya. Yuk, ajak anak menjadi sholihah dan cantik dengan turban bayi. []

Penulis :  "1" Ichie

Rabu, 30 September 2015

Masih Sering Lakukan Hal Ini? Hati-Hati, Nanti Setan Bisa Jadi Sahabat Sejati

HIJABERSWORLD.COM---Jika saja tidak ada setan yang selalu menggoda kita di dunia ini, betapa tenteram dan tenang hidup ini ya Sob. Kita hanya akan temukan kebaikan di setiap tempat. Tidak ada kejahatan, tidak ada iri dengki, tidak ada kemudharatan karena sesungguhnya semua tindakan negatif yang kita lakukan adalah buah dari manisnya bujukan setan.

Namun, hidup juga tidak akan seru tanpa tantangan. Layaknya “games” tantangan adalah jalan untuk bisa mendapatkan nilai. Ketika kita berhasil menaklukkan tantangan maka kita akan mendapatkan skor. Begitu juga pengaruh setan dalam kehidupan kita. Allah menjadikan setan ada di dunia untuk menguji keimanan hambaNya. Ketika kita berhasil menepis tipu daya setan maka, kita selamat. Sebaliknya jika kita terpedaya dan tunduk pada bujuk rayunya, maka celakalah kita karena kita terjebak pada dosa.

Seberapa kuat iman kita kepada Allah tercermin dari bagaimana kita tahan terhadap godaan setan yang menyesatkan. Setan melakukan berbagai cara untuk menggoda kita agar suatu saat dia punya teman di neraka. Hm, memang setan begitu jahat.  Betapa ruginya jika sampai kita terperdaya oleh setan yang sejatinya adalah musuh utama kita di dunia ini.

" Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Q.S. Fathiir : 6)

Ada yang tetap bisa menjaga hatinya agar selalu terpaut pada Allah, namun tidak sedikit juga yang ada akhirnya terpedaya setan dan bahkan sudah menjadi teman setan. Kalau kita sudah tergolong pada teman setan, maka kita akan menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala bersama iblis. Mengerikan bukan?

Sobat, siapakah yang tergolong pada teman setan? Salah satunya yang paling Allah tegaskan di dalam Al-Quran adalah pemboros.

Sejak kecil mungkin kita sudah diajarkan untuk tidak boros. Ibu kita sering mengingatkan kita untuk menghabiskan nasi dipiring. Entah itu dengan maksud untuk meghemat pengeluaran atau untuk alasan tertentu. Tapi yang pasti sebenarnya di dalam Islam larangan boros memang sudah tercantum dengan jelas dan tegas di dalam firman Allah dalam surat Al-Israa’ : 27

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Mubazir dalam makanan dan minuman
Ketika kita kecil mungkin kita patuh ya Sob ketika dilarang jangan buang-buang makanan oleh orang tua. Bagaimana sekarang Sob? Coba kita ingat-ingat pernahkah kita menyisakan makanan di piring. Bukan hanya sedikit tapi banyak sekali makanan yang tersisa. Ketika rasanya kurang enak, merasa sudah kenyang misalnya, kita lantas membuang makanan tersebut.

Hal yang lebih parah, ada yang membiarkan makanannya tersisa untuk pencitraan. Ada yang seperti itu? Ada. Biar dibilang makannya sedikitlah. Malu ketahuan makannya banyaklah, atau malu menghabiskan makanan dan sok imut di depan pacar. Aduh.. aduh, apa harus begitu ya?

Sobat, Rasulullah malah mengambil makanan yang telah jatuh dan memakannya hingga menjilat jari-jarinya. Kenapa kita malah bangga dengan makanan yang banyak tersisa. Di luar sana masih banyak saudara-saudara yang kita yang kurang beruntung kekurangan makanan.

Banyak diantara mereka yang bahkan berbagi sepotong roti saja untuk beberapa orang. Banyak dari mereka yang terpaksa menahan lapar demi anak-anak mereka. Ada juga yang terpaksa mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah untuk sedekar mengganjal perut.

Jika memang makan kita sedikit, alangkah lebih baik jika kita mengatur porsi makanan yang akan kita ambil dengan begitu tidak akan ada makanan yang terbuang-buang percuma. Atau jika kita telah terlanjur memasak atau membeli makanan yang banyak dan dikhawatirkan tidak akan habis, cobalah untuk berbagi pada orang yang membutuhkan. Semangkok kecil makanan yang kita berikan akan sangat berarti untuk mereka daripada kita buang dan membuat setan bersorak gembira.

Ketika kita berbagi, kita mendapatkan dua keuntungan, mendapatkan pahala sedekah, serta terhindar dari sifat boros atau mubazir. Tidak mubazir dan bersedekah juga merupakan wujud Syukur kita kepada Allah. Tahukan Sobat? Setan mudah sekali memperdaya kita yang lalai untuk bersyukur.

" Wahai Allah, "Dari sebab Engkau telah menghukum saya tersesat, saya akan benar-benar ( menghalang-halangi ) dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." (QS. Al-A'raf : 16-17)

Apa boros hanya tentang makanan?

Membeli barang yang tidak digunakan
Tentu saja tidak Sobat. Boros juga berlaku untuk hal-hal lain. Membeli barang-barang tapi tidak terlalu digunakan juga termasuk pada sifat boros. Kita sebagai wanita biasanya sering terjebak pada hal ini ya Sob? Ada barang bagus dan diskon, langsung kalap deh. Gunanya sih bukan untuk dipakai, tapi di koleksi atau buat pamer. Mungkin harta kita sudah berlebih sehingga membali barang-barang hanya untuk dikoleksi akhirnya menjadi penyaluran nafsu yang tidak ada gunanya. Astagfirullah, kita para wanita rentan lho Sob akan hal ini.

" Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. 
Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715)


Muslimah Berbelanja. Photo via WN/Imran Nissar


Memang sih kehidupan sekarang seakan saling berlomba untuk menunjukkan gengsi ya Sob. Sebagian wanita berlomba untuk membeli barang-barang mewah dan branded hanya untuk mendapatan status sosial yang tinggi di tengah-tengah kalangannya sedangkan masih banyak barang serupa yang tidak terpakai dirumahnya.

Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu‫.‬ Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah." (QS. Al-Waqiah: 41-45)

Ketika hal itu sempat mengoda kita, ingatlah Sobat, kehidupan kita kedepannya masih panjang. Ingat pepatah sewaktu kita SD dulu? “Boros pangkal miskin”, siapa yang tahu kehidupan. Sekarang mungkin kita hidup mewah, bagaimana jika nanti ada ujian sehingga harta kita menjadi berkurang sedangkan kita tidak punya tabungan yang memadai?

Maksudnya begini, menabung untuk masa depan lebih baik daripada memberi barang-barang mewah hanya untuk dikoleksi. Allah nanti tidak menanyakan mereka tas apa saja yang sudah kita koleksi lho? Mendingan tabung koleksi amal yuk,  sedekah misalnya. Selain hemat, kita juga telah selamat dari label teman setan. Wah, mantap.

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Q.S.Al-Israa’ 26)

Nah, Sobat, hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil atau wajar menurut pandangan kita sebagai manusia, tetapi ternyata itu adalah hasil program setan dalam membujuk kita Sobat.

Oya, boros tidak hanya terkait makanan dan berbelanja barang yang tidak diperlukan tetapi mencakup banyak hal seperti pemakaian pulsa, air, listrik dan sebagainya. Semoga kita tidak termasuk teman sejati setan di dunia maupun di akhirat. Mari bersama-sama berjuang memusuhi setan. Salah satunya dengan pensiun dari sikap hidup boros.[]

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Minggu, 27 September 2015

Kala Muslimah Dimabuk Asmara : Agar Jatuh Cinta Tidak Menyesatkan

HIJABERSWORLD.COM---Sobatku, pernahkah engkau jatuh cinta? Seketika itu binar matamu berbeda, jantungmu berdegup tak biasa, wajahmu berseri bak bunga-bunga. Namun rasa itu bisa juga tiba-tiba berubah menjadi kegelisahan. Kegelisahan karena takut akan dosa, kegelisahan takut akan dilema, kegelisahan karena tidak bisa menyalurkan rasa sebelum waktunya. Bahagia yang teramat bahagia serta rasa gelisah yang luar biasa.

Selagi kita tidak mengumbar dan bisa menjaga agar tidak mengotori hati dengan angan-angan, maka rasa cinta bukanlah dosa Sobatku. Perasaan adalah fitrah dari Yang Maha Kuasa yang Allah titipkan pada hati setiap manusia. Tinggal bagaimana kita menjaga titipan tersebut sampai pada waktu yang boleh kita berikan pada seorang yang telah Allah catatkan namanya di dalam takdir kita.

Namun Sobatku, kita pasti setuju kalau menjaga perasaan bukanlah hal yang mudah. Seringkali cinta menimbulkan khayal dan angan yang indah. Jatuh cinta terkadang membuat kita lena. Bahkan rasanya ingin sekali memberi tahu dunia tentang perasaan yang kita punya. Adanya media sosial saat ini pasti mendukung untuk itu bukan? Dan memang banyak teman-tema kita yang”khilaf melakukan itu.

Muslim dan Muslimah.Photo via onislam


Rasa cinta pada lawan jenis membuat kita menginginkan balasan yang serupa dan rasa rindu untuk bersua ataupun hanya sekedar menyapa mesra lewat kata-kata. Setiap saat kita memikirkannya. Ingin tahu bagaimana kabarnya, ingin tahu apa yang dia lakukan.

Ya Allah, ampuni hamba yang terkadang lebih banyak mengingatnya yang bukan sesiapa daripada mengingatMu.

Lalu apa yang mesti kita lakukan agar virus cinta yang memabukkan tersebut tidak memberikan dampak negatif pada kita sebagai muslimah yang selalu mencoba menjadi lebih baik di mata Allah?

Memendam perasaan dan mencintai dalam diam
Bagaimana kuungkapkan resah ini ya Allah, akankah dia tahu betapa aku ingin perasaanku berlabuh. Ibarat menggenggam duri ya Allah, semakin ku genggam, semakin sakit. Bolehkah aku memberi tahunya?dalam rasa yang ingin kuungkap tersimpan pula takutku akan kecewaMu ya Allah.

Sobatku, ketika rasa cinta datang, pasti kita menginginkan balasan yang sama dari orang yang telah berhasil mencuri hati kita. Ah, alangkah bahagianya jika cinta kita berbalas. Saling mencintai bak cerita-cerita film.

Namun Sobatku, bisakah kita bayangkan apa yang akan terjadi jika kita saling menyatakan cinta? Akan timbul angan-angan yang melenakan yang akan merusak iman. Akan muncul kalimat-kalimat manis dan rayuan untuk saling menunjukkan cinta. Apakah seorang muslimah yang belum menikah wajar bertingkah seperti itu? bukankah seseorang tersebut belum tentu menjadi jodoh kita di masa depan?

Alangkah indahnya Sobatku,jika suatu pernyataan cinta pertama kali kita berikan kepada seseorang yang telah menjadi suami kita kelak. Percayalah, baginya itu adalah sebuah kado terindah. Biarkanlah cinta tumbuh dalam hening dalam diammu Sobatku, diam memuliakan kesucian jiwa, menguatkan rasa menjadi lebih tulus. Biarlah Allah yang menjaganya sampai tiba waktunya hati bermuara.

Lebih mendekatkan diri kepada Allah
Tuhan, semenjak aku jatuh cinta, seolah cintaku padanya melebihi cintaku padaMu. Aku berusaha mengetahui semua tentangnya hingga aku merasa jauh denganmu. Malamku terasa panjang, sepanjang waktu aku terjaga dan mengingatnya dalam gelisah. Kadang aku lupa tahajudku ya Allah, ampuni aku.

Jika cinta sudah membuat kita mulai jauh dengan Allah, maka itu bukanlah perasaan yang harus kita pelihara Sobatku. Bagaimanapun kecintaan kita kepada Allah adalah cinta yang paling utama. Tidak ada suatu apapun yang boleh menandingi cinta kita kepada Allah. Jadi Sobatku, jaga hatimu dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Coba kita iringi amalan-amalan wajib dengan amalan-amalan sunnah. Puasa juga bisa menahan kita dari angan-angan dan nafsu  cinta. Redakan kegelisahan hati dengan membaca Al-Quran. Yakinlah sobatku, mendekatkan diri kepada Allah akan membuat hati lebih tentram, meredakan kegelisahan dan yang pasti menghindari kita dari obsesi cinta yang berlebihan.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sungguh, jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutinya. Cinta yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut terhadap sesuatu yang membahayakannya.

Ceritakan pada Tuhan jika hati dirundung rindu
Dear Allah, izinkan ku sebut namanya di saat aku bercerita padaMu.”

Terungkapkan atau tidak, raca cinta seringkali memunculkan rindu. Entah itu sekedar melihat atau mendengar suaranya sedangkan agama kita yang mulia melarang kita untuk itu. Jika hati benar-benar rindu, ambillah wudhu dan curhatlah pada Allah. Sesungguhnya Allah adalah pendengar yang paling baik dan menentramkan.

Ceritakan pada Allah, dan minta ampunilah karena hati benar-benar rindu.
Jangan sampai kita khilaf dan menyatakan rindu padanya padahal belum tentu dia yang akan menjadi jodoh kita. Biarkan semua perasaan, rindu, harapan dan mimpi tentang cinta sebelum menikah menjadi rahasia kita dengan Allah saja.

Menyibukkan diri dengan kegiatan positif
Saat aku larut dalam menung, sungguh hanya ia yang ada. Semua tembok seolah menampilkan lukisan wajahnya. Semua tulisan seolah namanya, aku telah terjerat pada rasa cinta yang parah Tuhan. Biarkah sejenak aku lupa agar cinta ini tidak melenakan aku.”

Sobatku, perasaan, khayalan bisa muncul satu kita sedang tidak melakukan sesuatu. Dalam waktu itu otak secara otomatis akan membawa kita untuk menghubungkan segala sesuatu dengan seseorang yang kita “cinta” .

Untuk mencegah hal tersebut, kesibukan yang bermanfaat tentu akan membuat kita lupa. Kegiatan yang menguras tenaga dan fikiran bisa membuat frekuensi memikirkan si pembuat galau menjadi berkurang. Kita bisa ikut kegiatan sosial, membaca, menonton televisi ( tapi jangan film romantis ya) dan kegiatan lainnya.

Senantiasa berdoa pada Sang Pemilik Cinta
“Jika cinta hanya akan menjerumuskan aku pada dosa, biarkan perasaan ini menjadi biasa Tuhan.”

Allahlah sang Penguasa Cinta. Hanya Allah yang mampu memunculkan cinta dan menghilangkan cinta. Maka berdoalah padaNya. Jika memang kita belum sanggup untuk menikah, maka mintalah pada Allah untuk menghapus perasaan cinta tersebut. Mintalah pada Allah agar perasaan tersebut tidak selalu menyebabkan kegelisahan sepanjang waktu. Mintalah pada Allah untuk selalu menjaga kita dari perasaan-perasaan yang melenakan. Karena hanya Allah lah pemegang kunci kerahasiaan perasaan.

Dear Allah, jika namanya yang engkau tulis dalam takdirku, maka dekatkanlah dan berikanlah jalanmu agar rasa ini bersatu dalam ikatan yang suci, agar perasaan ini berlabuh pada tempat yang halal. Namun jika bukan namaku yang engkau tulis di dalam takdirnya, maka tegurlah aku Tuhan, agar tak  larut aku dalam rasa, tak lena aku menumbuhkan harap, tak khilaf aku berangan-angan, agar tak terjerumus hamba dalam dosa cinta.”

***
Nah Sobatku, semoga hal diatas bisa menjadi sebuah renungan serta langkah kita dalam menghadapi hati yang sedang dirundung cinta pada seorang laki-laki jika kita belum siap untuk menikah. Memang tidak mudah untuk melaksanakannya tetapi sebagi muslimah kita berkewajiban belajar mengarahkan cinta ke jalan yang seharusnya.

Tidak perlu takut tidak menyatakan dan didahului oleh orang lain, karena jodoh adalah rahasia Allah. Jika memang berjodoh maka perasaan itu akan bersatu jua nantinya dalam wadah suci bernama rumah tangga. Senantiasalah mendekatkan diri kepada Allah agar cinta kita kepada seseorang tidak melebihi cinta kita kepada Allah. Daripada memikirkan dan berangan tentang cinta lebih baik mempersiapkan diri untuk terus menjadi lebih baik. Bukankah laki-laki baik hanya diperuntukkan bagi wanita yang baik-baik pula. :-)

Tidak perlu merasa iri dengan mereka yang selalu umbar cinta dan kemesraan seolah mereka paling berbahagia. Kita muslimah, dan kita istimewa dengan menjaga rasa cinta. Jadikan pernyataan cinta pertamamu sebagai kalimat indah yang hanya kau berikan pada suamimu kelak. []

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Kamis, 24 September 2015

Agar Istiqomah Berhijab dan Terhindar Dari Godaan Melepas Hijab

HIJABERSWORLD.COM---Hijab adalah sebuah kewajiban bagi setiap wanita Islam. Berhijab berarti menjalankan perintah Allah. Sebaliknya,  tidak berhijab adalah salah satu pelanggaran terhadap agama. Hijab bukan pilihan hidup melainkan sebuah kemestian dalam hidup, tidak boleh ditawar dan tidak boleh ditunda.

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin,“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Ahzab ayat 59)

Ketika kita sudah akil baligh, saat itu juga kewajiban hijab sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang muslimah. Tidak perlu menunggu menikah dulu, apalagi menunggu tua dulu. Usia siapa yang tahu Sobat. Maukah kita kembali  pada Allah sedangkan kita belummenjalankan perintahnya?

Hijabers di tengah wanita tidak berhijab.Photo via themuslimtimes


Oleh karena itu bersyukurlah bagi kita yang sudah menjadikan hijab sebagai pakaian takwa. Bersyukurlah kita yang telah mendapatkan hidayah lebih dahulu dari pada teman-teman kita
yang belum berhijab lainnya.

Namun Sobatku, mempertahankan hijab bukanlah hal yang mudah. Berbagai godaan terkadang datang agar kita kembali menanggalkan hijab. Ada yang seperti itu? Ada sobat, banyak. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Godaan Untuk Melepas Hijab
Pertama, godaan bisa datang dari dalam diri sendiri. Bagi sebagian orang, berhijab membuatnya minder. Berhijab terkadang membuat sebagian orang merasa asing dan tidak menarik. Hal yang lebih parah lagi, berhijab membuat seseorang terkadang takut dikatakan munafik. Akhirnya karena belum merasa siap, tak jarang pada akhirnya seseorang kembali melepas hijabnya.

Kedua, godaan juga datang dari orang lain. Cemooh tersebut biasa dilayangkan pada wanita  yang mereka anggap “belum pantas” memakai hijab. Padahal kita bermaksud memperbaiki diri tapi malah dicemooh. Tidak jarang keputusan kita berhijab juga menimbulkan perubahan sikap dari orang-orang sekitar. Tidak tahan dengan tekanan–tekanan seperti itu, hijab pun kembali dilepas.

Ketiga, godaan bisa datang karena faktor-faktor tertentu. Faktor-faktor tersebut misalnya tawaran kerja yang mengharuskan membuka hijab. Kreatifitas dan aktivitas yang terhambat karena hijab, trend baru dalam dunia fashion serta berbagai godaan-godaan lainnya.

Lalu bagaimana agar kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang tidak istiqomah tersebut?Bagaimana agar kita bisa istiqomah dengan hijab?

Bergaul Dengan Orang-Orang Saleh
Pergaulan paling berpotensi untuk  membentuk dan mempengaruhi sikap kita. Ketika kita bergabung dengan komunitas yang tidak memakai  hijab, maka kita akan merasa asing. Kita akan merasa minder. Tidak jarang juga ketika kita malah sudah percaya diri godaan tersebut justru datang dari orang lain yang mempengaruhi kita baik secara langsung maupun tidak. Bahkan tidak sedikit juga yang terang-terangan menyatakan keberatan terhadap hijab yang kitapakai. Bagaimana agar hal tersebut tidak terjadi?

Ketika kita mulai berhijab temukanlah orang-orang yang mendukung kita. Bergaullah dengan orang-orang yang kuat agamanya sehingga keimanan kita makin hari akan bertambah  kuat,bukan bertambah goyah dengan godaan-godaan dari orang lain. Berteman dengan orang yang mempunyai ilmu agama yang baik akan membuat kita turut belajar dan memperbaiki diri. Tentunya akan semakin mempertahankan hijab kita.

Rajin Membaca Alquran
Al-Quran memang sebuah mukjizat suci yang luar biasa. Betapa banyak berkah yag kita dapatkan ketika kita rajin membaca Al-Quran. Salah satunya adalah untuk memperteguh hati agar tetap istiqomah.

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. An Nahl: 102)

Bagaimana agar Al-Quran bisa meneguhkan hati dan menjadikan kita istiqomah? Bacalah, hayati dan renungi isinya maka Allah akan meneguhkan hati kita untuk istiqomah melakukan kebaikan, temasuk berhijab.

Memakai Hijab Walaupun Dirumah
Bagi sebagian dari kita  mungkin ada suatu pemahaman yang salah. Hijab dipakai saat kita keluar rumah saja, sementara di dalam rumah kita boleh tidak berhijab. Oke kalau seandainya kita menjamin tidak ada laki-laki yang bukan  muhrim di rumah, bagaimana kalau ada? Seperti saudara ipar kita, atau tamu laki-laki yang datang?

Hijab untuk menutupi diri dari laki-laki yang bukan muhrim bukan untuk dipakai keluar rumah saja. Terutama untuk yang baru berhijab, biasakanlah berhijab walau di dalam rumah sekalipun. Selain melatih istiqomah, hal ini juga membiasakan kita beradaptasi dengan hijab seperti salah satunya masalah panas yang selalu dikeluhkan. Memakai hijab dalam rumah bukan berarti terus berhijab tanpa mengistirahatkan rambut lho ya. Waktunya kan bisa diatur Sob.

Membaca Segala Sesuatu Tentang Hijab
Sekarang membaca tidak hanya dari buku saja. Kita bisa dengan mudah mengakses situs-situs yang khusus membahas tentang hijab. Situs-situs tersebut biasanya akan menyajikan artikel-artikel tentang hijab yang bisa membuat kita semakin sadar kewajiban berhijab serta mengetahui hikmah-hikmah berhijab.

Tidak lupa juga baca kisah-kisah para publik figur yang berhijab. Kita biasanya mudah terinspirasi dengan mereka kan? Apalagi jika mereka semakin sukses setelah berhijab. Dengan demikian, kita akan semakin kukuh dan istiqomah dengan hijab yang kita pakai.

Membaca Doa Untuk Istiqomah
Hal yang paling penting adalah jangan lupa meminta pada Allah agar hati kita selalu diteguhkan. Agar kita tetap kukuh menjalankan perintah Allah, termasuk dalam berhijab. Salah satu doa yang bisa kita ucapkan adalah : “Wahai zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaku.”  (Q.S. Ali ‘Imran : 146)

Sadari Hal Ini
Sobatku, hijab bukanlah suatu cara untuk tampil cantik di mata manusia, hijab adalah cara agar cantik di mata Allah, kenapa merasa takut tidak cantik lagi? Hijab adalah sarana memperbaiki hati, kenapa takut dibilang munafik? Berhijab adalah untuk Allah, kenapa takut dengan penilaian manusia?

Berhijab adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah, kenapa kita  harus takut dijauhi manusia. Mana yang lebih baik dekat dengan Allah tapi jauh dengan manusia daripada dekat dengan manusia tapi jauh dari Allah.  Hijab bukan sebuah trend yang bisa kita pakai selagi trend lalu kita tinggalkan saat  ada trend baru. Hijab adalah pakaian yang harus kita pakai seumur hidup. Semoga kita tergolong kepada hamba-hambaNya yang istiqomah. []

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Minggu, 30 Agustus 2015

Yuk Waspada : Ibadah Hangus Karena Riya di Media Sosial, Jangan Sampai Deh

HIJABERSWORLD.COM---Kehadiran berbagai media sosial seperti  facebook, twitter dan instagram membuat sebagian orang mempunyai hobi baru yaitu up date status. Bukan hanya sebagai hobi, up date status malahan sudah menjadi suatu rutinitas yang wajib dilakukan setiap harinya.

Mulai saat orang bangun pagi, yang pertama kali dibuka adalah akun sosial entah itu facebook, twitter, maupun instagram. Terkadang sebagian dari kita bukannya berdoa di waktu shubuh tetapi yang pertama kali kita lakukan adalah up date status “selamat pagi“.
Social media sign.Photo:adweek.com


Begitu pun menjelang tidur, bagi sebagian kita tidur rasanya enggak afdhal kalau belum pamit ke media sosial.  Kalau diingat-ingat dan dipikirkan ulang, serem juga ya doa sebelum dan sesudah tidur tanpa disadari malah terganti ritual lapor media sosial.

Status yang diposting pun bermacam-macam rupanya. Ada yang sekedar menyapa bermaksud menyambung silaturahim, dakwah dengan tulisan, memposting kutipan-kutipan kalimat motivasi, berbagi inspirasi, curhat masalah kehidupan bahkan ada yang membuka aibnya sendiri. Kalau yang terakhir ini ngeri ya Sob. Pokoknya pengguna bebas mau menulis dan memposting apa saja yang diinginkan.

Memanfaatkan media sosial sebenarnya sah-sah saja untuk kita. Media sosial memang dirancang agar kita bisa saling berbagi dan bertukar informasi dengan  banyak orang.  Tapi kita tetap harus waspada karena sering terlena dan lupa tentang batasannya. Saking tergantungnya dengan media sosial, sebagian dari kita sering kebablasan memposting segala hal. Misalnya, menceritakan kegiatan yang berhubungan dengan ibadah.  Sudah tidak asing bagi kita melihat status-status tentang ibadah seperti ini :

Alhamdulilah, sampai juga puasa hari ini”
“Alhamdulillah, baru saja memberi santunan kepada anak yatim”
“Selesai juga dua rakaatan pagi ini”
“Kupanjatkan doa padaMu di sepertiga malam terakhir ini ya Allah”
“Shalat jamaah bareng suami,”
“Akhirnya, umrah juga.” 

Bahkan sebagian kita juga mungkin menjumpai orang yang kita kenal dengan sengaja memposting foto-foto yang dikondisikan seolah-olah sedang beribadah seperti shalat, mengaji dan berdoa agar terlihat shaleh. Tidak hanya itu,  tak aneh juga kita melihat seseorang yang berfoto dengan para anak yatim piatu yang baru saja disantuninya dengan menunjukkan dengan jelas besar nominal yang diberikannya.

Allah telah  dengan tegas mengatakan bahwa sedekah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi jauh lebih baik agar terjaga niat dan keikhlasannya. Allah menyukai hambanya yang beribadah dengan sembunyi-sembunyi agar terjaga kualitasnya seperti dzikir dan shalat tahajud ketika orang sedang tidur. Mempostingnya di media sosial membuat kita seolah-olah sengaja memberi tahu seluruh dunia kalau kita sedang berbuat kebaikan.

Kita tentunya paham sekali, bahwa status-status yang kita posting di media sosial akan dilihat dan akan mendapat respon dari pengguna lain. Itu sebabnya pencipta media sosial juga menambahkan menu suka, dan komentar agar setiap postingan kita bisa mendapat respon. Jika status yang kita posting adalah status-status kegiatan biasa tentu tidak ada yang perlu dipikirkan ulang.

Bagaimana kalau yang kita posting adalah tentang ibadah seperti contoh diatas? Lalu respon apa yang diinginkan? Berharap banyak yang menyukai? Atau berharap komentar pujian? Astagfirullah, kalau sudah itu yang terjadi, kita sudah terjebak ke dalam salah satu dosa yang mampu menghanguskan segala pahala kita yaitu riya.

Seperti yang telah kita ketahui, riya adalah salah satu sikap suka menampilkan diri dalam beramal agar amal tersebut dilihat oleh orang lain dengan maksud mendapat pujian dan simpati orang lain. Riya bukanlah sebuah dosa yang sepele.

Riya merupakan dosa syirik kecil karena kita mempersekutukan Allah dengan manusia. Kita beribadah bukan ikhlas karena Allah melainkan ingin mendapatkan simpati dari manusia. Akibat dari sikap riya pun tidak tanggung-tanggung. Allah akan menghilangkan pahala dari ibadah yang kita lakukan jika sudah menyusup sifat riya di dalam hati kita.

Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 264 yang berbunyi:
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah juga pernah bersabda : “Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah Asy syirkul ashghar (syirik kecil) maka sahabat bertanya apa itu sirik kecil. Beliau menjawab “Riya” .”(H.R Ahmad dan Mahmud Bin Labid)

Manusia memang rentan dengan sifat riya karena fitrahnya manusia suka dipuji.  Nah, dengan adanya media sosial yang berkembang saat ini, bisa saja semakin meningkatkan potensi riya. Apapun yang kita lakukan bisa kita  beritahu ke seluruh dunia dalam waktu beberapa detik saja.

Terkadang mungkin kita berfikir ini biasa. Tapi sungguh Sobat, riya bukanlah dosa yang biasa. Ketika kita memberi tahu dunia, tanpa sadar kita ingin melihat respon mereka sehingga membuat kita lupa tujuan kita beribadah sebenarnya hanya untuk Allah bukan supaya dipuji manusia dan dianggap baik di mata manusia.

Kita harus berhati-hati dan bijak menyikapi perkembangan yang ada. Tak perlu ikut-ikutan seperti yang lain. Allah menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, bukannya berlomba-lomba mempublikasikan kebaikan. Kita disuruh Allah untuk beribadah ikhlas kepadaNya, bukan untuk menarik simpati manusia. Cukuplah ibadah menjadi rahasia kita dengan Sang Pencipta. Karena dengan demikian kualitas dan keikhlasannya akan terjaga.

***
Memang segala sesuatu tergantung dengan niatnya. Niat hanya manusia itu sendiri dan Allah yang tahu. Begitu juga dengan publikasi ibadah di media sosial. Mungkin niat awalnya tidaklah untuk riya. Namun, sebagai manusia biasa, sungguh mampukah kita untuk menjaga kelurusan niat?

Jika Sobat bisa menjamin diri Sobat tidak terpengaruh dengan pujian dan niatnya lurus, tidak ada masalah. Jika tidak, semua ibadah yang dilakukan hanya akan bernilai nihil. Terlepas dari bisa menjaga niat yang lurus atau tidak, yuk mulai sekarang, sama-sama waspada sebelum memposting status. Mari memilah status yang akan dipublikasikan. Jangan sampai deh ibadah kita hangus karena riya di media sosial. Ready? :-) []

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Selasa, 18 Agustus 2015

True Beauty : Membangun Kembali Kecantikan Dari Dalam

HIJABERSWORLD.COM---Menjadi cantik adalah dambaan semua wanita. Banyak hal yang dilakukan para wanita demi tampil cantik mulai dari cara sederhana sampai cara –cara yang menghabiskan banyak uang seperti operasi plastik dan perawatan kecantikan lainnya.


Muslimah. Photo : maroccanwriters.com


Tak ada yang salah dengan keinginan tampil cantik. Tak hanya manusia, Sang Pencipta pun menyukai keindahan. Jadi berusaha tampil cantik adalah hal yang wajar  dan bahkan sangat dianjurkan dalam agama kita.

Sayangnya, terkadang kita lupa hahikat kecantikan sebenarnya. Dalam Islam kecantikan tidak hanya terbatas pada tampilan fisik atau luarnya saja. Cantik dalam Islam lebih mengutamakan kecantikan hati.

Banyak yang mempunyai wajah cantik, tapi belum tentu mempunyai hati cantik. Sedangkan jika seorang wanita sudah mempunyai hati yang benar-benar bersih, maka sinar kecantikan akan memancar di wajahnya meskipun ia berkulit gelap sekalipun. Sinar ketakwaannyalah yang memberikan aura cantik pada wajahnya.

Nah, karena cantik tak hanya mengandalkan fisik, lalu bagaimana supaya kita bisa menjadi muslimah yang cantik luar dalam? Bangun kembali kecantikan dari dalam diri. Mungkin selama ini kita hanya terfokus pada kecantikan luar (ragawi). Sementara, kecantikan dalam (rohani) sering diabaikan padahal inilah kunci kecantikan sejati.

Memakai Hijab
Seperti yang telah sama-sama kita ketahui, berhijab adalah salah satu kewajiban seorang muslimah. Allah dengan tegas telah memerintahkan kita sebagai wanita untuk memakai hijab dalam firmannya Q.S Al-Ahzab ayat 59. Meski demikian, belum semua wanita mau menjalankan perintah Allah tersebut. Berhijab adalah syarat menjadi wanita muslimah yang cantik luar dalam. Padahal  dalam ayat tersebut Allah juga menyatakan hikmah berhijab.

Laksanakan Perintah Allah
Sobat tentunya tahu  bahwa hijab sebagai identitas seorang muslimah. Namun, menjadi muslimah tak cukup hanya dengan memakai hijab saja. Sebagai seorang muslimah yang sebenarnya, tentunya kita harus menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangannya agar bisa menjadi hamba Allah yang bertakwa. Banyak hal yang tidak dilakukan orang lain tetapi harus kita lakukan. Sebaliknya banyak hal yang dilakukan oleh orang lain tapi tidak boleh kita lakukan seperti bergaul bebas dengan lawan jenis. Jadi sebagai seorang muslimah kita harus melaksanakan ibadah baik yang wajib maupun sunnah.

Memperbaiki Akhlak
Untuk menjadi cantik, kamu harus mempunyai akhlak yang bagus baik itu akhlak kepada Allah maupun akhlak kepada sesama manusia. Sebagai seorang muslimah kita harus pandai menempatkan diri di dalam pergaulan. Menjadi seorang wanita muslimah haruslah santun, lemah lembut dan bijaksana. Milikilah hati yang selalu ingat dan bersyukur kepada Allah dan jadilah seorang muslimah yang bermanfaat bagi orang lain.

Perluas Wawasan
Cantik saja tidak cukup. Sebagai seorang muslimah kita harus punya wawasan yang luas terutama masalah agama. Hal ini akan membuat kita mudah melebur bersama masyarakat. Mempeluas wawasan bisa dilakukan dengan banyak belajar dan membaca.

Kita harus menambah wawasan setiap hari karena seorang wanita kelak akan menjadi seorang ibu. Seorang muslimah harus bisa menjadi sosok seorang ibu yang cerdas. Bisa mendidik dan menjadi teladan bagi anak-anaknya kelak.

Akan tetapi, dengan ilmu dan wawasan yang dimiliki tetap tidak boleh merasa sombong dan tinggi hati. Justru kita harus bersemangat untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Al-Quran adalah bacaan yang harus jadi bacaan wajib kita. Selain berpahala, Al-Quran akan memberikan kita wawasan tentang hukum Islam, ibadah, muamalah, sejarah, akhlak dan sebagainya. 

Nah, itulah langkah-langkah membangun kecantikan dari dalam diri untuk menjemput cantik luar dalam. Sebagai seorang muslimah kita harus menjalani hal-hal tersebut. Sebagai orang yang beragama Islam, kita tidak boleh terfokus dengan cantik fisik. Raga ini hanyalah titipan sementara dari Allah.

Kecantikan hati jauh lebih penting dan akan memancarkan kecantikan alami muslimah sebenarnya. Bila kecantikan dari dalam sudah dimiliki, maka dengan sendirinya kecantikan itu akan memantul pada  fisik kita []

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Selasa, 11 Agustus 2015

Jendela Qalbu: Berhijab Untuk Memperbaiki dan Menjaga Hati

HIJABERSWORLD.COM----Sebagaimana diketahui, hukum berhijab adalah wajib bagi 
setiap wanita dalam Islam. Meskipun demikian, ternyata masih saja banyak yang enggan untuk berhijab. Zaman dahulu kita memang sering mendengar alasan orang enggan berhijab diantaranya takut akan kesulitan mendapat pekerjaan dan jodoh. 

Hijab dianggap membatasi usaha mencari rezeki, mengingat dulu banyak instansi-instansi pemerintahan maupun swasta yag melarang pekerjanya memakai hijab. Selain itu hijab dihindari terkait adanya pandangan-pandangan primitif yang menyatakan wanita berhijab adalah wanita ekstrim yang kaku dalam pergaulan alias tidak up to date

Wanita Berhijab. Photo : Instagram/OkiSetianaDewi


Saat ini, alasan-alasan seperti itu sudah tidak relevan. Sebagian besar instansi tidak lagi melarang pegawainya berhijab. Tak hanya itu, beberapa instansi justru menyarankan dan mewajibkan pekerja wanita untuk berhijab. Begitu juga, para pria juga tak lagi enggan untuk memilih istri berhijab. Malah mereka mendambakan wanita berhijab untuk jadi istrinya. Bisa dibilang, wanita berhijab dielu-elukan pria bahkan ada yang menikah dengan syarat calon wanita mau berhijab. 

Sebagaimana wanita yang luar biasa dalam sejarah Islam, hijab juga tidak membatasi diri dalam berkarya. Tidak ada istilah bahwa wanita berhijab adalah wanita “kampungan” dan bodoh. Ini terkait kewajiban dalam agama. 

Meskipun berhijab sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar dan berhijab di negara kita bukan hal asing lagi, masih saja banyak wanita yang belum berhijab. Ada-ada saja alasan mereka untuk menunda memakai hijab. Alasan yang paling tidak masuk akal dan sering digaungkan adalah “perbaiki hati dan perilaku dulu baru berhijab”.  

Menurut mereka, memakai hijab itu munafik. Banyak yang penampilan luarnya saja yang Islami tapi hatinya tidak. Masih suka ngomogin orang, mengumpat, mengeluh, bahkan pacaran. Hal itu membuat mereka akhirnya punya alasan andalan untuk menunda berhijab.

 “ Hijab hati dulu, baru hijab sebenarnya. Biar nggak munafik”, biasanya begitulah cara mereka menutup perdebatan masalah hijab.

Loh, sebenarnya memang harus hijab hati dulu baru berhijab atau bagaimana? 
Lalu sampai kapan kita harus menunggu hati kita benar-benar bersih dulu baru berhijab? 

Ketahuilah, sebagai sebuah kewajiban, memakai hijab harus disegerakan. Memakai hijab tidak butuh alibi. Dengan tidak memakai hijab, sama saja kita telah mengundang pandangan laki-laki yang bukan muhrim. Jangan marah dan merasa harga diri terluka kalau sering dijumpai laki-laki genit yang nakal dan menggoda. 

Hal yang lebih penting, tidak menutup aurat berarti kita sudah menambah dosa tiap harinya. Kita juga mungkin akan santai saja melakukan dosa-dosa kecil lainnya karena tidak ada pengontrol pada diri kita. 

Sahabat, jika seperti itu kapan hati kita akan bersih? Atau jangan-jangan hati kita malah tambah jauh saja dari sosok muslimah yang sesungguhnya. 
Kapan kita akan masuk golongan wanita Islam yang sebenarnya? 
Tanpa hijab, makin hari, dosa itu makin menumpuk. Sementara, usia terus berkurang. 

Sahabat, mari kita ubah pandangan ini. Bagaimana kalau begini saja “ berhijab dulu, maka pelan-pelan hati kita akan bersih”

Bagaimana berhijab bisa membuat hati kita bersih?

Hijab adalah pengontrol dan dipertanggungjawabkan
Untuk orang yang ikhlas mau berhijab, maka ia akan mempertanggung jawabkan keputusannya. Hijab seolah menjadi mesin pengontrol dari setiap tindak tanduk pemakainya. Biasanya masih suka berbohong, membicarakan orang lain, atau malah meninggalkan ibadah. 

Ketika ingat sudah berhijab, maka seseorang akan segera sadar bahwa sekarang dirinya sudah memutuskan untuk menjadi muslimah yang sebenarnya. Setiap memandang diri di depan cermin, maka akan ada suatu perasaan dalam diri untuk mempertanggung jawabkan semuanya.

Cambuk untuk meningkatkan keimanan
Berhijab juga akan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah. Menyadari sudah berhijab, maka seorang muslimah harus membuktikan bahwa ia sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya. Jika dulu ibadahnya hanya sebatas yang wajib saja, maka dengan berhijab ia akan mulai melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. 

Dengan terus mengontrol tindakan dan meningkatkan ibadah kepada Allah, maka dengan begitu perlahan-lahan hati kita akan senantiasa menjadi hati yang senantiasa mengingat Allah. 
Begitulah bagaimana hijab bisa mengubah hati kita menjadi bersih. 

Kuncinya adalah, niatkanlah hijabmu untuk memperbaiki diri bukan untuk pekerjaan, jodoh, gaya dan lainnya. Ikhlaslah dan yang pastinya juga harus istiqomah. Sekarang, sahabat mau pilih yang mana? Perbaiki hati dulu baru berhijab atau berhijab untuk memperbaiki hati? [] 


Penulis : Yefra Desfita Ningsih