Tampilkan postingan dengan label CONTEMPLATION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CONTEMPLATION. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2016

Merasa Paling Miskin dan Sedang Berjuang Menjadi Kaya?Wajib Baca dan Renungkan Ini Dulu!

HIJABERSWOLRD.COM---Pernahkah Sobat mendengar kisah tentang Tsa’labah? Kisah Tsa’labah merupakan salah satu kisah yang cukup populer dalam Islam. Meskipun terdapat sebagian pertentangan akan keshahihan kisah Tsa’labah ini, namun kisah Tsa’labah tetap patut kita ketahui dan mengambil pelajaran darinya. Siapa Tsa’labah?Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?

Kisah Tsa’labah si Pemuda Miskin yang Lupa Diri
Adalah dahulu kala pada zaman Rasulullah hidup seorang pemuda miskin bernama Tsa’labah. Tsa’labah sangat dan amat teramat miskin. Saking miskinnya, Tsa’labah bahkan hanya mempunyai sepasang baju layak untuk dipakai sehingga harus dipakai bergantian dengan istrinya. Meskipun demikian, Tsa’labah  merupakan pemuda yang taat beribadah. Tsa’labah selalu menjalankan ibadah shalat berjamaaah.

Berdoa meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa. Foto via muslimvillage


Kemiskinan yang diderita Tsa’labah selama bertahun-tahun membuat Tsa’labah mulai lelah. Pada suatu kesempatan, Tsa’labah meminta pada Rasulullah untuk didoakan. Tsa’labah minta didoakan kelimpahan harta dari Allah SWT agar hidupnya tidak lagi dalam kemiskinan.

Jika aku punya rezeki yang cukup aku bisa membeli pakaian hingga tidak harus terburu-buru pulang lagi untuk berganti dengan istriku, agar aku bisa lebih khusuk beribadah” begitu kata Tsa’labah.

Rasulullah lalu menjawab,
"WahaiTsa'labah!Pemberian yang sedikit namun disyukuri, jauh lebih baik daripada harta yang banyak namun tak disyukuri.Apakah engkau tidak rela menjadi seperti Nabi Allah? Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, Seandainya aku mau gunung-gunung ini menjadi emas dan menjadi milikku, pasti terjadi."

Rasulullah mencoba menasihati Tsa’labah untuk menerima apa yang telah Allah berikan dan mensyukurinya. Namun Tsa’labah tetap mendesak agar Rasulullah mau mendoakan kelimpahan rezeki untuknya. Tsa’labah malah berjanji jika dia punya harta yang banyak dia akan tetap bersyukur. Dia bahkan berjanji untuk mengeluarkan hartanya untuk bersedekah. Rasulullah pun akhirnya mengabulkan permohonan Tsa’labah dengan mendoakannya.

Doa Rasulullah pun dikabulkan, Allah mulai memberikan rezeki pada Tsa’labah. Tsa’labah mulai memberi ternak seekor domba. Semakin hari domba Tsa’labah semakin berkembang dan menjadi banyak. Tsa’labah telah menjadi peternak yang sukses.  Sayangnya, Tsa’labah semakin sibuk mengurus ternaknya hingga mulai jarang shalat berjamaah. Semakin banyak hartanya, jangankan shalat berjama’ah, sholat 5 waktu saja sudah mulai ditinggalkannya.

Apakah Tsa’labah ingat janjinya untuk menafkahkan sebagian rezekinya untuk bersedekah? Tidak. Tsa’labah malah berubah menjadi orang yang kikir. Dia lupa bahwa harta yang dimilikinya merupakan pemberian dari Allah. Puncaknya, pada suatu hari Rasulullah mengutus dua orang sahabatnya untuk meminta zakat pada Tsa’labah. Bagaimanakahh reaksi Tsa’labah?

Dengan angkuh dan sombongnya, Tsa’labah malah menjawab “Zakat ? tetapi menurutku ini lebih tepat disebut upeti!.

Utusan Rasulullah pun kembali dan memberi tahu sikap Tsa’labah pada Beliau sehingga Beliau menjadi kecewa dan marah.  “Celakalah Tsa'labah!" Ucap Rasulullah waktu itu. Pada saat itu turunlah wahtu Allah yaitu surat At-Taubah ayat 75-78.

Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah,"Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk  orang-orang yang saleh". Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka dan bahwasanya Allah amat mengetahui yang ghaib?"

Mendengar kabar turunnya ayat Allah yang mengecam sikapnya, Tsa’labah mulai gentar. Tsa’labah menemui Rasulullah untuk membayarkan zakat namun Rasulullah menolaknya. Rasulullah tidak menerima zakat dari orang kufur nikmat dan pelit seperti Tsa’labah. Hingga Tsa’labah wafatpun Rasullah tidak menerima zakat Tsa’labah bahkan khalifah-khalifah sesudah Rasulullahpun tidak menerima zakat dari Tsa’labah. Tsa’labah tidak membayar zakat hingga akhir hayatnya.

3 Pelajaran Penting Dari Kisah Tsa’labah 

Pertama, harta adalah salah satu ujian berat dalam hidup
Anggapan umum yang sering kita temui dan dengar, kemiskinan atau tidak mempunyai harta yang banyak adalah ujian besar dalam hidup. Ya, benar. Namun bukan berarti banyaknya harta bukan ujian.

Harta yang banyak justru mempunyai pertanggung jawaban yang besar di akhirat. Banyak harta juga merupakan ujian yang berbahaya di dalam hidup. Kita bisa lupa bersyukur. Kita bisa saja menggunakan harta tidak sesuai jalan Allah. Kita bisa saja lupa untuk mengeluarkan zakat dan sedekah dari harta tersebut. Semua itu ujian. Sedikit atau banyaknya harta adalah ujian. Jadi berhati-hatilah dengan harta.

Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)

Kedua, harta datang dari Allah, jangan lupa bersyukur
Allah memberi kita ujian harta dan melihatnya dari bagaimana cara kita bersyukur. Ada yang lulus dalam ujian tersebut, namun ada pula yang tidak lulus.

Sungguh Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS Al-Insan: 3).

Kembali pada kisah Tsa’labah. Lihatlah, sewaktu dia miskin serba kekurangan, dia rajin beribadah. Apa yang telah terjadi saat hartanya mulai berlimpah. Tsa’labah lengah, terlalu sibuk dengan harta dunia hingga ibadah sudah menjadi nomor dua. Semakin kaya malah semakin lupa. Hingga lupa dari siapa harta itu datangnya.

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl: 53)

Masih adakah orang seperti Tsa’labah saat ini?
Tentu ada, hingga tidak terhitung jumlahnya. Harta menjadi hal yang utama. Bekerja mati-matian demi mengejar materi hingga terkadang cara yang salah pun dihalalkan demi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Seolah-olah hartalah sumber paling utama hingga bersyukurpun tidak lagi sempat.

Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur” (QS. Al Baqarah: 152)

Ketiga, bersedekah sebagai wujud syukur
Apa wujud syukur? Selain diucapkan dengan lidah dan dipatrikan didalam hati bahwa kita selalu bersyukur dengan apa yang diberikan Allah, wujud syukur harusnya juga direalisasikan di dalam perbuatan. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan membayar zakat, rajin bersedekah, menggunakan harta di jalan Allah.

Jika ujian harta bisa membuatku jauh padaMu, maka tak mengapa Engkau tidak memberiku harta yang banyak Tuhan” []

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Sabtu, 10 Oktober 2015

Bekerja Banting Tulang Siang Malam Tapi Rezeki Masih Seret? Coba Koreksi 6 Hal Berikut Ini

HIJABERSWORLD.COM---Salah satu bentuk kesenangan di dalam hidup adalah ketika mempunyai rezeki yang berlimpah. Rezeki yang banyak di mana kita bisa melakukan apapun yang diinginkan, membeli semua yang kita mau, terpenuhi semua kebutuhan dan bahkan bisa dengan leluasa melaksanakan berbagai ibadah seperti haji, umrah, sedekah dan sebagainya.

Namun, dalam kehidupan, kita menjumpai tidaklah semua orang yang diberikan harta lebih. Sebagian orang yang rezekinya sedikit percaya bahwa hal tersebut adalah takdir, jadi mereka tidak memperbaiki usaha dan diri mereka sehingga kehidupan mereka memang tidak berubah. Bukankah Allah sudah menegaskan dalam QS.Ar-Ra’d :11 bahwa sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri?

Memang Allah telah menetapkan takdir, tetapi takdir juga dipengaruhi oleh ikhtiar manusia. Selain itu, saat rezeki terasa begitu sulit, terkadang lidah kita tergelincir mengeluh bahkan hati kita khilaf sampai berfikir Allah berat sebelah pada seorang hamba.


Bekerja keras. Photo via Freepik


Jika rezeki kita seret, sebaiknya jangan hanya berpikir itu takdir dan tidak juga merasa Allah kurang memperhatikan kita. Alangkah baiknya kita koreksi diri dulu. Siapa tahu kita sendirilah yang menghalangi rezeki datang kepada kita. Coba teliti apakah hal-hal di bawah ini masih sering kita lakukan sehingga rezeki kita menjadi seret.

Pertama, masih melakukan perbuatan dosa
Bekerja mati-matian, siang malam, pagi dan petang tidak kenal lelah dan menolak untuk menyerah, tetapi  rezeki kita tetap saja seret. Apa hal pertama yang harus kitak koreksi? Coba muhasabah diri, apakah masih ada maksiat yang kita lakukan?

Apakah masih ada dosa-dosa yang kita lakukan dan peraturan agama mana yang kita langgar. Pergaulan dengan yang bukan muhrim, perkataan-perkataan yang berpotensi fitnah, adu domba, provokasi juga termasuk ke dalam maksiat Sob. Jika memang masih ada hal-hal buruk yang masih kita lakukan, maka tidak heran kalau Allah enggan untuk memberikan rezekinya.

“… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya.” (Riwayat at-Tirmidzi)

Dalam salah satu firmannya Allah juga menerangkan, bahwa hanya pada hambanya yang beriman dan bertakwalah Allah memberikan rezeki yang berkah dan berlimpah.

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al -A’raf : 96)

Kedua, melalaikan kewajiban terhadap Allah
Tidaklah kita malu meminta hak kepada Allah sedang kita tidak memenuhi hakNya dengan melakukan kewajiban-kewajiban kita. Bukankah nikmat yang Allah berikan tidak akan pernah sebanding dengan apa yang kita lakukan.

Tak banyak yang Allah perintahkan kepada kita. Shalat misalnya, dari 24 jam waktu kita, kita hanya butuh tidak lebih dari satu jam untuk shalat secara keseluruhan. Tapi sudahkah kita memenuhinya? Sudahkah kita senantiasa menjadikan shalat sebagai rutinitas yang paling diutamakan. Jika belum maka bagaimana mungkin kita terus merengek minta rezeki berlimpah, sedang untuk shalat saja kita belum penuh.

Wahai anak Adam, sempatkanlah untuk menyembah-Ku maka Aku akan membuat hatimu kaya dan menutup kefakiranmu. Jika tidak melakukannya maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu.” (Riwayat Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abu Hurairah r.a.)

Ketiga, lupa mendoakan kedua orang tua
Siapa raja dan ratumu di dunia? Ayah dan ibu kitalah jawabannya. Tiada makhluk lain yang harus kita muliakan melebihi beliau. Bisakah kita membalas segala jasanya? Tidak! Bahkan lautan permata dan gunung emas tak mampu kita jadikan upah lelah mereka menjaga dan membesarkan kita.

Apa kewajiban kita? Berbakti kepada keduanya. Salah satu cara berbakti yang paling tulus adalah melalui doa. Sobatku, betapa Allah memuliakan posisi orang tua, jika kita lupa mendoakan orang tua, maka bersiaplah, Allah akan memutus rezeki kita di dunia.

Siapa berbakti kepada ibu bapanya maka kebahagiaanlah buatnya dan Allah akan memanjangkan umurnya.” (Riwayat Abu Ya’ala, at-Tabrani, al-Asybahani dan al-Hakim). “Apabila hamba itu meninggalkan berdoa kepada kedua orang tuanya nescaya terputuslah rezeki (Allah ) daripadanya.” (Riwayat al-Hakim dan ad-Dailami)

Keempat, lupa bersyukur dan rajin mengeluh
Sejatinya, sedikit banyak harta yang kita punya tergantung dari bagaimana kita mensyukurinya serta  bagaimana orientasi kita di dalam hidup. Kita tentu sudah sama-sama sering mendengar, jika mau bersyukur maka lihatlah ke bawah.

Jika kita terus berkiblat pada gaya hidup seseorang yang hartanya lebih banyak maka tentu kita akan selalu merasa kurang. Mereka punya mobil mewah, kita hanya punya motor biasa. Mereka punya rumah gedung, kita hanya punya rumah sederhana. Dalam hal apapun kita hanya akan merasa kekurangan. Jika demikian apa yang akan terjadi? Mengeluh.

Kita hanya akan sibuk mengeluh sehingga lupa bahwa banyak hal yang seharusnya masih bisa kita syukuri. Coba lihat kehidupan mereka yang kurang beruntung dari kita. Sederhana saja, ketika kita makan di warteg misalnya jangan ingat orang yang makan di restoran Jepang yang mahal, tapi ingat bagaimana saudara kita di jalanan sana yang bahkan tidak punya apa-apa untuk di makan. Dengan begitu rasa syukur akan menyusup ke dalam jiwa.

Jika kita terus mengeluh dan tidak bersyukur, maka Allah akan menegur kita dengan cara membuat rezeki kita menjadi seret.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

Percayalah, dengan bersyukur maka kita akan selalu merasa cukup dan lebih bahagia, meski yang kita miliki tidak sebanyak yang mereka punya.

Kelima, tidak lagi bertawakal
Terkadang kita hanya ingat dan dekat dengan Allah saat kita benar-benar berada di titik terendah. Saat putus harapan tempat bergantung serta tiada lagi kawan tempat berlindung. Hidup sudah terkatung-katung. Setelah usaha habis kita lakukan, saat itu kita baru berpasrah diri pada Allah dengan bertawakkal.

Namun, ketika Allah sudah memberikan rezekinya, kita tiba-tiba menjadi besar kepala. Kita terlalu percaya diri  menganggap kalau semua yang kita dapatkan adalah hasil usaha kita. Selanjutnya malah kita lancang menerka-nerka rezeki yang kita dapatkan.

Padahal di dalam agama kita, setelah kita berusaha sebaik mungkin dan berdoa, maka kita serahkan hasilnya kepada Allah. Bagaimana kalau rasa tawakkal tersebut sudah hilang? Jangan heran kalau sewaktu-waktu rezeki kita kembali seret bahkan lebih buruk.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS: Ath-Thalaq: 2-3)

Dalam salah satu riwayat, Rasululullah SAW juga bersabda :
Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)

Keenam, malas bersedekah
Jika kita beranggapan bahwa bersedekah hanya amalan orang kaya saja, maka alangkah naifnya kita. Jika hanya orang kaya saja yang bersedekah maka semakin kaya lah si kaya dan semakin miskin pula si miskin.

Kenapa demikian? Mungkin kita sudah sama-sama pernah mendengar maupun membaca bahwa siapa yang bersedekah ikhlas di jalan Allah maka Allah akan menggantinya dengan rezeki yang berlipat ganda. Sebaliknya, jika enggan bersedekah, Allah akan menyempitkan rezeki bagi kita.

Nabi SAW bersabda kepada Zubair bin al-Awwam: “Hai Zubair, ketahuilah bahawa kunci rezeki hamba itu ditentang Arasy, yang dikirim oleh Allah azza wajalla kepada setiap hamba sekadar nafkahnya. Maka siapa yang membanyakkan pemberian kepada orang lain, niscaya Allah membanyakkan baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, niscaya Allah menyedikitkan baginya.” (H.R. ad-Daruquthni dari Anas r.a)

***
Nah, Sobatku, itulah diantara penyebab kenapa rezeki kita masih seret. Bagaimana? Adakah di antara keenam hal di atas yang menghalangi rezeki kita? Atau malah semuanya?

Yuk kita berusaha menghindari sikap selalu mengeluh. Jika kita sudah bekerja sungguh-sungguh, dari pagi ke petang, dari petang ke subuh namun rezeki belum juga berubah. Mari bersama muhasabah diri. Temukan dan  koreksi apa yang salah.  Semoga kita termasuk pada orang-orang yang dilapangkan rezekinya ya Sob. Amin. []

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Rabu, 07 Oktober 2015

7 Lagu Religi Islami Nan Syahdu, Menggetarkan Jiwa dan Sarat Makna

HIJABERSWORLD.COM---Sobat, ada kalanya kita tiba-tiba termenung dan hanyut ketika mendengarkan sebuah lagu. Entah itu karena liriknya yang sarat dengan makna atau pun komposisi musiknya yang syahdu. Apalagi lagu-lagu religi. Akan ada nuansa dan getar tersendiri saat kita mendengar lagu-lagu religi tersebut karena tidak hanya bicara tentang lirik bagus serta musik yang indah, tetapi lebih pada renungan makna yang kita temukan di dalamnya. 

Maher Zain. Photo via id.wikipedia.org


Di Indonesia lagu religi juga mendapat tempat di hati masyarakat kita yang sebagaimana kita ketahui mayoritas Islam. Apa saja lagu religi atau Islami yang mampu menggetarkan jiwa? Dirangkum dari berbagai sumber dan dipertimbangkan dari pengalaman teman-teman kita lainnya, berikut 7 lagu religi yang sarat makna dan menggetarkan jiwa yang mendengarnya :

Khusnul Khotimah–Opick
Lagu  religi pertama yang paling menggetarkan jiwa adalah Khusnul  Khotimah dari Opick. Diawali dengan musik yang sangat pelan dan syahdu, lagu ini mampu menggetarkan jiwa kita tentang mengingat kematian. Ketika Sobat mendengarkan lagu ini, cobalah pejamkan mata, hayati musiknya yang mendayu dan dalami maknanya. Apalagi sampai pada lirik ini :

“Bila masa telah tiada,  kereta kencana datang tiba-tiba
Airmata… dalam duka… tak merubah ceritanya
Hanya hening dan berjuta tanya
Dalam resah… Dalam pasrah”

Betapa dalam makna yang disiratkan Opick dalam lagi ini. Bagaimana jika kematian yang tidak penah kita tahu datang tiba-tiba sedang kita belum punya apa-apa? Tangis orang tua kita, keluarga kita, anak-anak kita, suami kita tidak bisa membuat Tuhan menunda pemenuhan janji kita padaNya. Hanya resah Sobat, dan hanya pasrah.

Ketika Tangan dan Kaki Bicara-Chrisye
Siapa yang tidak kenal Chrisye ya Sob. Beliau adalah salah satu legenda musik di Indonesia. Memang mayoritas lagu Chrisye adalah bertemakan cinta, tapi simaklah lagu religi beliau yang satu ini Sob. Hati mana yang  tidak akan tergetar dengan lagu penuh makna ini. Liriknya penuh dengan perenungan. Belum lagi musiknya yang mendayu syahdu. Seperti lagu khusnul khotimahnya Opick, lagu ini merupakan lagu tentang kematian.

Musiknya yang syahdu serta pembawaan Chrisye yang penuh penghayatan menjadikan lagi ini menjadi lagu yang mampu menggetarkan jiwa kita. Resapi lirik ini Sob :

“Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi.
Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita. 
Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita kemana saja dia melangkahnya”

Tahukah kamu Sobat, lagu yang diminta khusus oleh Chrisye dari Taufik Ismail tersebut terinspirasi dari ayat Al-quran yaitu surat Yasin ayat 65. Itulah kenapa lagu ini mampu menggetarkan hati setiap yang mendengarnya apalagi lagu ini lagi-lagi bertema tentang pengadilan yang luar biasa. Chrisye bahkan berkali-kali menangis saat latihan, maupun rekaman lagu ini karena benar-benar membuat jiwa bergetar.

Cermatilah, pejamkan mat, nikmati lirik dan musiknya. Itulah hari dimana mulut kita yang biasanya pandai berdiplomasi, pandai berkata-kata dan bersilat karena lidah akan dikunci. Tak ada suara kita yang berkoar-koar bisa melakukan pembelaan diri. Semua bersaksi. tangan tentang apa yang dikerjakannya, kaki tentang kemana ia melangkah.

Akhirnya–Gigi
Jika dulu sobat sering menonton serial Pintu Hidayah di RCTI pasti lagu ini sudah cukup familiar di telinga Sobat. Bagian lirik mana yang paling menyentuh? Hampir semua lirik sangat menyentuh dan menggugah jiwa kita. Menyadarkan kita akan kesalahan-kesalahan pada masa lalu. Kita  akan merinding sangat suara sang vokalis Gigi, Arman Maulana” dengan penuh penghayatan sampai pada reff :

“Oh tuhan, mohon ampun, atas dosa dan dosa selama ini.
Aku tak  menjalankan perintahmu, tak pedulikan namamu,
Tenggelam melupakan dirimu.
Oh tuhan, sempatkanlah, aku bertobat hidup di jalanmu, 
tuk penuhi kewajibanku, sebelum tutup usia, kembali padamu.”

Bagian lirik tersebut mampu menggetarkan jiwa kita untuk ingat atas kelalaian yang pernah kita lakukan terhadap Allah. Kehidupan dunia yang semakin membuat kita sibuk membuat kita lupa bahwa kita punya Allah sebagai satu-satunya yang paling kita prioritaskan.

Bila Waktu Telah Berakhir-Opick
Sobat tentunya setuju bukan kalau Opick merupakan penyanyi sekaligus pencipta  lagu-lagu religi yang menyentuh, baik dari segi liriknya yang punya makna dalam sampai musiknya yang syahdu.
Bila waktu telah berakhir adalah salah  satu lagi Opick yang benar-benar mampu  membuat kita merenung tentang kematian.

Di mana saat waktu itu datang tiba-tiba, sudahkah kita punya persiapan? Apakah yang bisa kita lakukan? Tidak ada lagi guna harta yang kita punya, juga tahta yang kita banggakan, tidak ada juga yang bisa jadi penolong, tidak keluarga dan sahabat tak seorang pun. Lirik mana yang paling menyentuh? Semuanya. Setiap kata yang di senandungkan Opick mengandung makna.

Cermatilah Sobat, betapa Opick telah mengaduk-ngaduk perasaan kita dengan mengajak kita merenung jiwa sewaktu-waktu kamatian datang.

“Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
Meninggalkan dirimu
Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari
Masikah ada jalan bagimu untuk kembali
Mengulangkan masa lalu.”

Lalu Opick juga mengingatkan pada kita bahwa dunia ini hanyalah hiasan Sobat. Harta, tahta, oran-orang tercinta tidak akan bisa membantu kita. Siapa yang bisa membantu? Hanya amal. Semoga kita selalu memperbanyak amal untuk teman sejati di akirat nanti ya Sob.

“ Dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua dan segala yg ada akan
Kembali pada-Nya
Bila waktu tlah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu tlah terhenti
teman sejati tianggalah sepi”

Insyaallah-Maher Zain
Ketika kita dirundung masalah, seringkali kita merasa teramat pedih, mengeluh, bermurung diri bahkan berputus asa. Nah, lagu MaherZain ini bisa menyadarkan kita bahwa apapun masalah yang kita hadapi bahwa Allah selalu ada.

“Every time you commit one more mistake, 
You feel you can’t repent and that it’s way too late,
 You’re so confused wrong decisions you have made, 
Haunt your mind and your heart is full of shame, 
but don’t despair and never lose hope, 
cause Allah is always by your side".”

" Setiap kali Anda melakukan suatu kesalahan lagi
 Anda merasa Anda tidak mampu bertobat dan sudah terlambat,
 Anda jadi bingung dengan keputusan yang salah yang telah Anda buat,
Ssehingga menghantui pikiran dan hati Anda dengan penuh rasa malu,
Tapi jangan putus asa dan jangan pernah kehilangan harapan,
 Karena Allah selalu di sisi Anda".

Juga pesan ketika kita dilanda masalah yang disampaikan melalui lirik :
Turn to Allah He’s never far away, put your trust in Him, raise your hands and pray"
(Kembalilah pada Allah, Dia tidak pernah jauh. Percayalah padaNya, angkat tanganmu dan berdoa)

Muhasabah Cinta - Edcoustik 
Yang namanya muhasabah memang seharusnya membuat kita merenung dan menggetarkan jiwa kan Sob? Begitu juga dengan lagu andalannya Edcoustik yang berjudul Muhasabah Cinta.  Lirik dan musik lagu ini sangat menyentuh. Menceritakan seseorang yang sedang sakit dan menyadari pentingnya arti sehat dan bersyukur atas nikmat sehat yang Allah lakukan. Mungkin liriknya sederhana Sobat, tapi penuh makna dan menggetarkan jiwa.

“Tuhan baru kusadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini ku harapkan cinta Mu”

Juga pada bagian ini Sob :

“Sakit yang kurasa biar
Jadi penawar dosaku”

Sakit yang kurasa, biar jadi penawar dosaku,” bukankah itu suatu keikhlasan ketika kita dilanda sakit? Lagu ini bisa sekali menyentil kita yang biasanya malah suka mengeluh ketika sakit, tetapi tidak menjaga kesehatan selagi Allah masih memberi kesehatan. Apa yang diharapkan si sakit dalam lagu ini? Hanya satu :

“Jika ku harus mati
Pertemukan aku dengan Mu”

Andai Ku Tahu –Ungu
Siapa bilang sebuah Band yang mungkin biasanya hingar bingar dengan musik yang keras dan banyak mengusung tema cinta tidak bisa menghasilkan sebuah lagu religi yang indah? Lagu religi “Andai Ku Tahu” yang dipopulerkan oleh Ungu ini sempat menjadi sangat terkenal beberapa tahun yang lalu.
Lagu ini mendapatkan tempat di hati masyarakat karena liriknya yang sangat sarat makna dan menggetarkan jiwa yang mendengarnya. Ya. Apalagi karena lagi-lagi lagu ini bertemakan tentang kematian.

“Andai ku tahu
 Kapan tiba masaku
 Ku akan memohon tuhan jangan kau ambil nyawaku
Aku takut akan semua dosa-dosaku
Aku takut dosa yang terus membayangiku” 

Nah, selain lagu-lagu diatas, apa sobat punya lagu religi lain yang lebih menggetarkan jiwa? Bagi yang belum mendengar, tak ada salahnya mendengarkan lagu tersebut. Jika sudah, cobalah hayati lebih dalam lagi agar kita bisa menangkap pelajaran. []

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Minggu, 04 Oktober 2015

Raga Memang Masih Hidup Tapi Mungkinkah Hati Telah Mati?Ini Tanda-Tandanya

HIJABERSWORLD.COM---Sobat, hati adalah tempat di mana keimanan kita berpaut. Hati adalah tempat di mana kita merasakan manisnya iman, merasakan takut akan dosa dan tempat kita mempertimbangkan baik dan buruk suatu perbuatan. Bukan harta, tahta atau pun rupa yang paling penting kita jaga, melainkan hati agar tetap mulia.

Ilustrasi hati yang mati. Photo via Cafleurebon


Bahkan Sobatku, baik  buruknya hati akan tercermin pada jasad kita. Secantik apa pun kita, jika hati sudah tidak baik, maka tidak ada kecantikan alami yang akan terpancar. Sebaliknya rupa yang biasa-biasa saja bisa mempesonakan mata yang memandang karena cahaya iman yang ia pelihara di dalam hatinya.

Rasulullah bersabda, “...Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR. Imam Al-Bukhari)

Hati kita adalah cerminan keimanan kita kepada Allah. Orang yang hatinya selalu mengingat Allah akan selalu berusaha memberikan yang terbaik di hadapan Allah. Sebab ia takut akan murka Allah. Allah bahkan menyebutkan posisi penting hati untuk menandakan apakah seseorang beriman atau tidak.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal (berserah diri).” (QS. Al-Anfaal: 2)

Subhanallah, hanya dengan disebut nama Allah saja hati mereka sudah bergetar, apalagi disebutkan nikmat Allah atau bahkan ancaman Allah terhadap manusia yang lalai dalam beragama. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang bergetar hatinya ketika disebut nama Allah ya Sobat.

Apakah kita termasuk manusia yang mati hatinya?

Sobatku, tak sedikit juga di antara kita yang hatinya sudah mati. Bagaimana hati yang sudah mati? Sebagaimana jasad, jika hati sudah mati maka hati tidak akan bisa merasakan  apa-apa lagi. Hati yang mati tidak lagi merasakan betapa manisnya iman, betapa syahdunya  mengingat Tuhan, dan bahkan tidak lagi merasakan takut akan dosa. Tidak ada lagi fungsi yang bisa mengontrol perasaan mereka. Fungsi hati telah terganti oleh akal dan nafsu, hingga hanya kesenangan akal dan nafsu yang menjadi prioritas mereka.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.” (QS. Al Jaatsiyah : 23)

Dalam  Q.S Al-baqarah Allah mengancam orang yang hatinya tertutup dengan siksaan yang besar.

Allah Telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup  dan bagi mereka siksaan yang besar.” (QS.Al-Baqarah : 7)

Betapa Allah sangat tidak menyukai hambanya yang menjadikan nafsu dan akal semata sebagai pedoman hidup mereka di dunia. Jika hati sudah mati dan nafsu sudah berkuasa akan banyak keburukan yang akan terjadi. Tentu saja semuanya mendapat ganjaran dari Allah di akhirat kelak.

Lalu bagaimana sebenarnya tanda-tanda hati yang sudah mati?

Jika hati sudah mati maka segala tindak tanduk di dunia sudah tidak lagi berjalan di dalam koridor agama. Kenapa bisa demikian? Karena mereka tidak lagi peka akan Allah, meraka tidak takut dosa.

Dalam kitab  Hilyatul Auliya’ VII/426, Jâmi Bayân Al-‘Ilmi wa Fadhlihi No.1220 dan Al-I’tishom I/149 sebagaimana dilansir dari Abu Fawazz, diceritakan oleh Ibrahim rahimahullah bahwa Ibrahim
bin Adham rahimahullah pernah suatu ketika berjalan di sekitar pasar Kota Bashrah.

Tak lama kemudian, orang-orang bertanya kenapa Allah tidak pernah mengabulkan doa-doa mereka. Ibrahim bin Adham rahimahullah kemudian menjawab “Wahai penduduk Bashrah, yang demikian itu karena hati kalian telah mati disebabkan sepuluh perkara.”

Apa saja sepuluh penyebab tersebut?

Pertama : “ Kalian mengenal Allah. Namun kalian tidak menunaikan hak-Nya.
Kedua: “ Kalian membaca Kitabullah (Al-Quran Al-Karim). Namun kalian tidak mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.
Ketiga : “ Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun kalian meninggalkan tuntunannya.”
Keempat : “Kalian mengatakan benci dan memusuhi syetan. Namun kalian justru selalu menyepakati dan mengikutinya.
Kelima : “Kalian mengatakan, ‘kami cinta surga’. Namun kalian tidak beramal untuk mendapatkannya.
Keenam : “Kalian mengatakan, ‘kami takut masuk Neraka’. Namun kalian justru menggadaikan diri kalian dengannya.
Ketujuh : “Kalian mengatakan, ‘sesungguhnya kematian pasti akan datang’. Namun kalian tidak mempersiapkan diri untuk menyambutnya.
Kedelapan : “Kalian sibuk mencari aib saudara-saudara kalian. Namun lalai dari aib diri kalian sendiri.
Kesembilan : “Kalian memakan kenikmatan dari Rabb kalian. Namun kalian tidak pernah mensyukurinya.”
Kesepuluh : “ Kalian menguburkan orang mati diantara kalian. Namun kalian tidak mau mengambil pelajaran darinya.

Sesungguhnya bukan mati raga yang harus kita takutkan, melainkan matinya hati.  Semoga kita bukan termasuk pada golongan yang hatinya mati ya Sob dan terhindar dari pendengaran dan penglihatan yang dibutakanNya. []

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Kamis, 01 Oktober 2015

7 Alasan Kenapa Doa Tak Kunjung Terkabul

HIJABERSWORLD.COM----Sobat, barangkali kita pernah dirundung gelisah. Saat harap tak kunjung terjawab. Saat mimpi tak kunjung pasti. Saat cita-cita tak kunjung nyata. Kita mungkin pernah berfikir  dan bertanya seperti ini :

Kenapa doaku belum dijabah padahal aku sudah berdoa setiap hari?
Kenapa sampai saat ini aku belum berhasil, padahal aku sudah berdoa pada Allah?
Kenapa rezekiku masih sulit, aku rajin lho berdoa?
Kenapa doa mereka mudah sekali terkabul sedang aku tidak? 
Bukankah Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa hambaNya? Sebagaimana dalam Q.S. Al-Mu’min : 60, Allah berfirman :

 “Berdo’alah kalian kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan do’a kalian”. 

Tak hanya pertanyaan-pertanyaan galau itu saja, bahkan sampai ada di antara kita yang khilaf berucap “Allah tidak adil”. Astagfirullah, semoga Allah mengampuni kita ya Sob.

Berdoa. Photo via thenational.ae / Tameem Al Tamimi


Sebelum kita lancang “menyalahkan”, berburuk sangka atau bahkan sampai menjudge Allah tidak adil, yuk kita simak faktor-faktor penyebab doa belum terkabul ini dulu ya Sobat. Jangan-jangan faktor yang sebenarnya kita ciptakan sendirilah yang membuat kenapa doa kita tidak pernah terjawab. Mana tahu kita ternyata masih melakukannya sehingga membuat Allah menunda pengabulan doa kita atau bahkan Allah punya rencana lain untuk kita.

Pertama, masih melakukan dosa (dekatilah Allah setiap saat)
Jika amalan wajib kita masih belum sempurna, jika jiwa dan raga kita masih melakukan hal yang dilarang Allah dan menimbulkan dosa, pantaskah kita menuntut doa kita segera dikabulkan? Kita memohon pada Allah, tapi kita tidak memenuhi hak-hakNya. Pantaskah kita mendapatkan pengabulan doa dalam waktu dekat dan cepat?

Allah berfirman  “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah  : 186)

Dalam ayat di atas Allah dengan jelas mengatakan, syarat terkabulnya doa seorang hamba adalah setelah mereka memenuhi segala perintah Allah. Jika kita masih berdosa, maka sangat pantas bila Allah masih menunda pengabulan doa kita. Semoga kita termasuk pada orang-orang yang senantiasa berusaha memenuhi segala perintah Allah ya Sobat.

Kedua, pesimis dan ragu pada Allah ( yakinlah doa akan dikabulkan)
Sobat, apa yang kita lakukan ketika kita berniat membantu seseorang tapi orang tersebut malah meragukan kemampuan kita, tidakkah ada sedikit kecewa dalam hati? Allah Maha Mengetahui apa isi hati hambaNya. Saat kita berdoa sedangkan kita ragu apakah Allah akan mengabulkannya, maka jangan berharap doa akan segera dikabulkan.

Bagaimana doa terkabul jika kita sendiri meragukan doa tersebut akan dijawabNya?

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Berdoalah kepada Allah, sedangkan kalian yakin akan dikabulkan doa kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Imam Ahmad)

Lihatlah apa yang Rasulullah pesankan kepada kita,  bukankah itu sebuah rahasia besar agar Allah mengabulkan do’a kita. Hanya Allah tempat kita meminta, maka siapa lagi yang akan kita minta pertolongan selain Allah. Yakinlah bahwa cepat atau lambat Allah akan mengabulkan doa kita. Sobat, yang kita butuhkan hanya bersabar dan terus percaya.

Ketiga, terlalu berambisi dan terburu-buru (sabarlah, biar Allah tentukan waktunya)
Siapa yang tidak ingin semua inginnya segera terwujud. Bahkan kalau dunia adalah dunia peri mungkin kita ingin menyulap semua keinginan dengan tongkat ajaib, kantong Doraemon, apapun itu.

Sebaik-baik rencana manusia, maka jauh lebih baik rencana Allah. Jadi, kenapa kita harus meminta do’a segera dikabulkan sedangkan Allah punya rencana  lain yang lebih indah. Ketahuilah, meminta sesuatu untuk buru-buru dikabulkan hanya akan membuat doa kita sia-sia.

Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak buru-buru. (Yakni jika) ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan.” (HR.Al-Bukhari).

Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta agar doa segera dikabulkan?’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ’(Yakni) hamba itu berkata, ‘Aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan.” (HR.Muslim)

Kita boleh berdoa tapi biar Allah yang menentukan kapan semuanya terwujud.

Keempat, isi doa yang tidak baik (berdoalah yang baik-baik)
Dalam hidup kita akan selalu berhadapan dengan masalah setiap harinya. Entah itu masalah dengan diri sendiri maupun masalah dengan orang lain. Masalah dengan orang lain ini sering menimbulkan perasaan kecewa yang terkdang berujung kebencian bahkan dendam, apalagi jika seseorang tersebut pernah melakukan sesuatu yang buruk untuk kita.

Kekesalan tersebut sering kita tumpahkan dalam doa, berharap agar Allah membalas semua kejahatan mereka, berharap agar Allah memberikan kemudharatan kepada mereka. Berharap keluarga mereka berantakan. Astagfirullah.

Meskipun mungkin maksud kita untuk melampiaskan amarah, dan kekecewaan, pantaskan kita sesama muslim mendoakan hal yang buruk untuk saudara kita? Bukankah Allah menyukai hambaNya yang pemaaf? Jika ini yang menjadi isi doa kita, apakah Allah akan bersegera mengabulkannya?

Cermatilah, Rasulullah melarang kita untuk berdoa untuk keburukan, sebagaimana hadist berikut :
Dari Jabir ra. berkata, Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian berdoa untuk kemadharatan diri kalian, dan jangan berdoa untuk keburukan anak-anak kalian. Jangan berdoa bagi keburukan harta-harta kalian. Janganlah kalian meminta kepada Allah di satu waktu yang diijabah Allah, padahal doa kalian membawa keburukan bagi kalian.” (HR. Imam Muslim)

Lalu apa yang akan terjadi jika kita berdoa untuk keburukan?

Dalam sebuah hadist riwayat Imam Ahmad dari Abu Said al-Khudri Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada orang muslim yang berdoa meminta kepada Allah SWT dengan doa, dimana didalamnya tidak ada dosa dan ia tidak memutuskan tali silaturrahmi, kecuali Allah akan memberinya antara tiga perkara: pertama Allah menangguhkan permintannya untuk yang akan datang; kedua: Allah menyimpannya untuk kesempatan lain, dan ketiga: Allah mengalihkan darinya kejelekan dan malapetaka yang mirip dengan permintaannya.

Bacalah point ketiga dengan seksama. Astagfirullah, bagaimana jika doa keburukan yang kita mintakan pada Allah malah dialihkan pada kita?

Daripada meminta balasan keburukan untuk mereka, alangkah lebih baiknya jika kita meminta agar Allah melapangkan hati kita untuk memberi maaf. Alangkah lebih baiknya jika kita meminta Allah untuk membuka hati mereka. Sungguh Allah lebih menyukai doa kebaikan daripada doa keburukan.

Kelima, memakan makanan haram ( makanlah, gunakan  segala sesuatu yang halal)
Istimewanya kita sebagai umat Islam, Allah telah mengatur mana makanan yang boleh atau halal kita makan dan mana yang tidak boleh. Hal ini bukan hanya pembagian semata, karena terdapat keutamaan atau rahasia di dalamnya, baik dari segi kesehatan maupun keutamaan dalam agama. Jika kita mengkonsumsi makanan yang haram, baik sengaja maupun tidak maka Allah akan menunda untuk mengabulkan doa kita.

Dalam hadistnya Rasulullah SAW bersabda: "Ada seseorang yang melakukan perjalanan, rambutnya kusut, pakaiannya lusuh, ia mengangkat tangannya ke langit, 'Wahai Tuhan..' sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan nutrisinya dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya diterima?!" (HR.Muslim)

Lihatlah, bagaimana Allah tidak main-main dengan aturanNya. Bukankah sangat merugi jika kita punya tempat untuk meminta namun kita tidak bisa meminta? Semoga kita terhindar dari hal tersebut ya Sobat, hati-hatilah selalu mengenali makanan atau apapun itu yang halal.

Keenam, tidak khusyuk dan sombong  (khusyuk dan rendahkan dirimu di hadapan Allah)
Sobat, ketika kita meminta pada Allah, maka kita  menengadahkan tangan padaNya. Meminta berarti berada di posisi yang lebih rendah daripada si Pemberi. Maka dari itu rendahkanlah dirimu. Jika kita malu rendah diri di  hadapan manusia, maka di hadapan Allah kita benar-benar harus merendah.

Sehebat apapun kita di mata orang lain, di hadapan Allah kita bukanlah sesiapa Sobat. Jangan sampai pencapaian kita di dunia lantas membuat kita menjadi sombong. Ingatlah Sobat semua yang kita miliki, yang kita dapatkan berasal dari Allah. Jadi berdoalah padaNya dengan merendahkah diri karena Allah Maha Tinggi dan khusyuk karena Allah mencintai kesungguhan hambaNya.

 “Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (Q.S. Al-A’raf : 55)

dan..

 “Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) segala kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Q.S. Al-Anbiya’: 90)

Ketujuh, ditunda pengabulannya (percayalah , rencana Allah itu indah pada waktunya)
Sobatku, tidak terkabulnya doa bukan berarti Allah telah mem”blacklist” doa kita. Siapa tahu Allah menyimpannya dulu di folder rencana yang lebih indah yang akan di keluarkan suatu waktu pada masa yang paling tepat atau bahkan adalah tabungan di akhirat, Subhanallah.

Tidak perlu takut karena Allah adalah Maha Perancang Cerita hidup yang paling baik. Hal yang pasti, selagi doa kita adalah kebaikan, Allah akan mengabulkannya, entah itu di dunia maupun diakhirat kelak. Entah itu berupa kebaikan, atau berupa pelindung untuk jauh dari keburukan.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula pemutusan hubungan kekerabatan, melainkan Allah akan memberinya salah satu di antara tiga hal: doanya segera dikabulkan, akan disimpan baginya di akhirat, atau dirinya akan dijauhkan dari keburukan yang senilai dengan permohonan yang dipintanya.” Para shahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan banyak berdoa.” Rasulullah menanggapi, “Allah lebih banyak (untuk mengabulkan doa kalian).” (H.R Ahmad dan Abu Ya’la)

Sobatku, hanya karena doa kita belum dikabulkan jangan berputus asa. Jangan mudah menyerah bahkan sampai menjudge Allah.  Berdoalah tiap saat dengan khusyuk. Biarkan Allah yang tentukan waktu terindah untuk menjawabnya. Semoga kita termasuk pada kaum yang dijabah doanya, Amin.[]

Penulis : Yefra Desfita Ningsih

Kamis, 17 September 2015

Ujian Datang Silih Berganti? Ini 7 Rahasia dan Manfaat Yang Bisa Digali

HIJABERSWORLD.COM---Hampir tidak ada seorangpun di dunia ini yang luput dari ujian Allah. Entah itu ujian berupa masalah keuangan, kesehatan, kehilangan orang yang dicintai, kesulitan dalam mencari ilmu, pekerjaan, jodoh dan sebagainya. Namun, tidak semua kita yang bisa memahami hakikat dari ujian yang dihadapi. Kita tidak selalu bisa menyadarinya.

Bermuhasabah sejenak ketika diuji untuk mengambil hikmah. Photo  via virtual mosque.com


Ketika satu atau beberapa ujian tersebut datang menghampiri, sebagian besar orang lebih cenderung kecewa, sedih, merasa kesepian dan putus asa. Lebih ekstrim lagi, bahkan ada yang berpikir bahwa Allah tidak adil, Allah tidak mempedulikan dan Allah tidak menyayanginya.

Mari membuka pikiran dan lapangkan hati, maka kita akan memahami bahwa banyak rahasia yang bisa kita gali dari setiap ujian yang datang silih berganti. Di antara rahasia tersebut yaitu :

Pertama, meningkatkan keimanan.
Hari ini kita diuji kemudian kita belajar berserah diri kepadaNya. Kita tidak berhenti berpikir betapa susahnya ujian tersebut tapi terus berusaha mencari jalan keluarnya. Kita kemudian bisa menyadari serta meyakini bahwa selalu ada hikmah di balik semua peristiwa. Artinya, ujian secara tidak langsung telah membantu kita dalam menjaga dan meningkatkan kualitas  keimanan kita.

Sejalan dengan hal ini, dalam Q.S Al-Ankabut ayat 2, Allah berfirman : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. Dari hadis Tirmidzi, Rasulullah juga bersabda : “ Sesungguhnya Allah memberikan dunia (kekayaan) bagi orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai. Namun, Dia tidak memberi keimanan kecuali kepada orang yang Dia cintai.

Ujian bisa jadi jalan Allah menunjukkan rasa cintanya kepada kita agar keimanan kita kepadaNya terus terjaga.

Kedua, pintu rezki.
Ujian bisa menjadi pintu rezeki bagi setiap hamba yang selalu ingat denganNya ketika ujian itu datang. Hadis dari Al-Baihaqi Al-Kubra, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas r.a menjelaskan bahwa :

Orang yang selalu membaca istighfar, Allah akan menghilangkan keresahan yang ia rasakan, melapangkan kesempitan yang menimpanya dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Seperti kata-kata orang bijak kalau kegagalan adalah awal kesuksesan, maka ujian juga bisa menjadi pembuka rezeki kita.

Ketiga, menambah wawasan.
Ibarat belajar matematika di sekolah, guru memberikan soal-soal untuk kita pecahkan. Ketika kita berhasil menyelesaikan soal-soal tersebut maka bertambahlah kecerdasan kita. Begitu jugalah dengan ujian yang diberikanNya. Allah sudah mengatakan dalam Q.S Al-Insyirah ayat 5 bahwa : "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Tugas kita adalah menemukan kemudahan itu. Ketika kita berhasil menemukannya, maka secara tidak langsung wawasan dan pengalaman kita pun jadi bertambah.

Keempat, memperkebal daya tahan kita.
Ketika kita jarang mendapatkan ujian, maka biasanya kita akan canggung, merasa tidak kuat dan lemah ketika ujian datang. Umumnya kita bingung saat menghadapi sesuatu yang tidak familiar atau jarang terjadi dalam hidup kita sehingga kita kemudian merasa berat menjalaninya. Dengan semakin banyak ujian yang diberikan Allah, maka secara bertahap kekebalan kita terhadap masalah juga terbentuk.

Bagaimana pun “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Q.S. Al-Baqarah : 286).

Tak heran, bila nanti kita jadi terampil dalam menyelesaikan masalah. Setiap masalah muncul maka kita tidak kaget lagi tapi sudah terbiasa menghadapinya.

Kelima, menambah rasa syukur.
Ujian yang terus datang dalam hidup kita juga bisa menjadi batu loncatan bagi kita untuk terus menambah rasa syukur kita. Bila kita menghayati, memperluas pandangan dan pikiran, maka kita akan menemukan bahwa kita bukanlah satu-satunya orang yang diujiNya. Kita akan menyadari dan mendapati bahwa ujian yang kita dapatkan belum seberapa. Ada orang lain menerima ujian yang lebih besar dari kita. Apa yang mereka hadapi tidak sebanding dengan apa yang kita hadapi.

Keenam, sarana introspeksi diri.
Mempelajari dan mengevaluasi diri adalah sebuah keharusan. Tanpa hal ini maka seseorang tidak akan mengalami peningkatan dalam hidupnya. Jangan terus mengeluh dan menurutkan prasangka buruk tapi bertanyalah pada diri sendiri kesalahan apa yang telah aku lakukan sehingga ujian ini datang kepadaku?

Dalam hadis yang disampaikan oleh Tirmidzi yang diriwayatkan oleh Syaddat Ibn Aus, Nabi Muhammad bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengoreksi diri dan beramal saleh untuk akhiratnya, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, sementara ia berharap baik memperoleh imbalan dari Allah.

Ketika Allah menguji kita dengan berbagai kesulitan, bisa jadi itu disebabkan oleh maksiat yang kita lakukan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim al-Jauzi bahwa maksiat bisa menghalangi rezeki, ilmu, mendatangkan kesulitan, membuat hati risau dan kesepian.

Ketujuh, terhindar dari tipuan.
Kita cenderung berpikir bahwa ketika Allah memberikan kelapangan rezki, kemudahan dalam segala urusan, kesehatan baik dan sebagainya itu berarti Allah mencintai kita. Sebaliknya, bila Allah memberikan cobaan maka berpikir Allah tidak mencintai kita.

Kesenangan yang kita dapatkan juga harus diperhatikan dan dipertanyakan terlebih bila kita mendapatkannya disaat kita sering melalaikanNya. Kesenangan itu bisa jadi tipuan karena tipuan yang paling besar adalah tipuan kelezatan dunia. Bisa jadi kesenangan itu adalah istidraj dari Allah.

Dari beberapa manfaat yang bisa kita peroleh dari sebuah ujian, masih layakkah kita berpikir bahwa Dia tidak mencintai kita? Allah tidak pernah lengah. Dia mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Terkadang apa yang kita anggap baik belum tentu itu akan membawa kebaikan untuk kita. Sebaliknya, ketika kita berpikir bahwa sesuatu itu tidak baik (seperti ujian), bisa jadi itulah yang bisa membuat hidup kita lebih baik dan berkah.

Sahabatku, mari sama-sama belajar merubah mindset yang semula berpikir ujian itu menyakitkan dan menyengsarakan. Kini, setiap diuji maka tanyakanlah : nikmat apa yang hendak Allah berikan kepadaku melalui ujian ini?

Dalam Q.S Surat al-Fajr ayat 15-17, Allah sudah menyatakan dengan jelas bahwa “ Tidak semua yang Aku berikan kepadanya dan Aku luaskan rejekinya itu berarti Aku memuliakan dia. Dan tidak pula orang yang diberi cobaan dan rejekinya menjadi sempit itu berarti Aku menghina dia, tidak sama sekali tidak. Namun orang ini dicoba dengan nikmat dan orang itu Aku muliakan dengan cobaan-cobaan.

Yakinilah bahwa Allah selalu mempedulikan, menyayangi dan memuliakan kita. Dia memikirkan kita melebihi dari apa yang kita pikirkan tentangNya. Dia menjaga kita melebihi dari yang kita bayangkan.

Dia mencintai kita melebihi dari yang kita tahu. Oleh karena itu, mari berusaha mencintaiNya sebagaimana Dia mencintai kita. Semakin banyak ujianNya, semoga bertambah pulalah kecintaan kita kepadaNya.

Penulis : Fitria Zelfis

Selasa, 15 September 2015

“ Anakku, Biarkan Ibu dan Bapak Menghabiskan Sisa Usia Ini Di Dekatmu”

HIJABERSWORLD.COM---Pada usia senja seharusnya  seseorang bisa menikmati kehidupan yang nyaman bersama anak cucu. Hal ini menjadi kenangan yang terindah di ujung usia. Namun bagi sebagian orang tua, usia senja justru menjadi momok yang sangat menakutkan, menjadi malapetaka dan menciptakan air mata hingga menutup mata.

Kenapa demikian? Apa mereka takut akan meninggalkan dunia ini karena usia yang sudah tidak lagi muda?  Bukan, bukan itu yang mereka takutkan. Mereka takut ditinggalkan, dijauhi oleh darah daging mereka sendiri. Memang seorang anak seharusnya menjaga dan berbakti kepada kedua orangtuanya sampai akhir hayat. Begitulah Allah perintahkan. Namun, kenyataannya banyak sekali kita mendengar kisah pilu tentang anak yang menelantarkan orang tuanya.

Diungsikan ke panti jompo, inilah hal yang ditakutkan orang tua ketika mereka  lanjut usia. Akhir-akhir ini memang marak sekali anak yang menitipkan orangtua di panti jompo. Benarkah pilihan ini untuk kebaikan orang tua atau karena anak hanya memikirkan kebaikan dan keuntungan untuk dirinya saja?

Beragam alasan mengapa anak menitipkan orang tua ke panti. Ada yang bertujuan untuk menyelamatkan pernikahan. Ada yang sibuk bekerja sehingga tidak punya cukup waktu. Ada yang karena orang tua sudah tidak bisa bekerja dan sulit bergerak. Ada yang kesal karena orang tua sudah pikun. Ada yang merasa terganggu dengan orang tua yang renta. Ada yang merasa kesulitan merawat orang tua. Astagfirullah, semoga tidak pernah terbesit dalam hati dan pikiran kita alasan-alasan seperti itu ya Sob.

Orang tua yang sudah tua. Photo via Indiadaily.org


Bagaimana pun kondisi orang tua, mereka tetaplah orang tua yang telah melahirkan dan membuat kita ada seperti saat ini. Aneh tapi nyata, ada anak yang begitu mudahnya merasa terbebani dengan keberadaan orang tua yang sudah tua padahal orang tua tidak pernah merasa terbebani merawat anak sejak kandungan hingga dewasa.

Orang tua tidak pernah mengenal lelah demi anak-anaknya tapi anak memiliki seribu alasan mengirim mereka ke luar rumah. Mereka merasa lelah menjaga orang tua mereka sendiri di hari tua. Bahkan ada yang berharap orang tua segera meninggal agar tidak menyusahkan mereka. Astagfirullah.

Senakal  apa pun seorang anak di masa kecil, orang tua tidak pernah merasa terganggu. Sesibuk apa pun orang tua, bagi mereka kenyamanan anak tetap yang utama. Mereka banting tulang agar anak bisa makan. Mereka berhemat agar anak bisa sekolah dan memiliki masa depan yang baik. Namun, ketika anak dewasa, sudah punya kehidupan yang mapan dan berkeluarga, orang tua malah disingkirkan dan terpinggirkan.

Trend panti jompo memang semakin berkembang akhir-akhir ini terutama di kota-kota besar. Mungkin maksud mendirikan panti jompo adalah untuk menjawab persoalan sibuknya anak bekerja sehingga takut tidak bisa menjaga orang tuanya dengan baik. Mungkin juga untuk menampung orang tua yang hidup sebatangkara.

Jika orang tua hidup di panti jompo karena sudah tidak punya keluarga, ini adalah baik untuk dirinya daripada terlunta-lunta di luar sana. Kasih sayang perawat mungkin akan melengkapi hidup mereka.
Lain halnya, kalau anak masih hidup semua tapi orang tua sengaja dikirim ke panti. Baik anak pertama, kedua dan lainnya tidak satu pun yang sudi memelihara orang tua. Sungguh, Tuhan Yang Maha Kuasa menyaksikan hal ini.

Panti jompo yang dikelola baik oleh pemerintah maupun pihak swasta memang menjanjikan perhatian dan pelayanan yang intens dari para perawatnya sehingga anak merasa aman menitipkan orang tuanya di panti jompo.

Apa pun tujuannya, ketahuilah, mungkin orang tua akan merasa aman, semua kebutuhannya terpenuhi dan tinggal memanggil perawat jika membutuhkan apa-apa di panti. Namun, apakah kebutuhan batin mereka terpenuhi? Perawatan intensif dan profesional dari pihak panti jompo tetap tidak dapat menggantikan sepenuhnya kasih sayang, cinta, perhatian yang semestinya diberikan oleh anak-anak dan cucu-cucu. Ini adalah kebenarannya.

Melihat anak-anak dan cucunya tumbuh serta berkembang dengan baik adalah mimpi indah yang diidam-idamkan orang tua kita di saat mereka lanjut usia. Mereka ingin menghabiskan sisa waktu mereka dengan melihat kebahagiaan anak serta bermain dengan cucu-cucu mereka.

Bukan balas budi yang mereka inginkan.
Bukan kemewahan hidup yang mereka butuhkan.
Dibalas dengan gunung emas pun tidak akan mampu membayar jasa mereka.
Jika kita tidak mampu membalas jasa mereka lalu apakah kita tidak bisa berusaha memberikan kasih sayang kepada mereka?

Orang tua mengorbankan harta, tenaga dan jiwa mereka demi anak lalu anak mengucilkan dan mengasingkannya di hari tua. Sungguh, tidak ada hal lain yang dibutuhkan oleh orang tua dari anaknya selain kasih sayang.

Sebagian orang memang terkadang memiliki niat baik. Mereka berpikir, mengantarkan orang tua ke panti jompo maka kebutuhan mereka akan terpenuhi, mereka akan dijaga dengan baik oleh perawat-perawat di sana. Sedangkah kalau dirumah kita takut tidak bisa mengontrol mereka secara maksimal karena sibuk merawat anak, suami bahkan pekerjaan.

Namun yang orang tua kita butuhkan adalah perhatian dan kedekatan dengan buah hatinya, bukan fasilitas yang lengkap. Orang tua membutuhkan rasa diterima, dihargai keberadaannya meski mereka sudah tidak  bisa melakukan apa-apa. Bayangkan bagaimana perasaan mereka saat di antar ke panti jompo. Merasa dibuang, kecewa dan tidak dianggap lagi kehadirannya.

Meski terkadang mereka mau atau malah pergi atas keinginan sendiri, jauh dilubuk hati mereka sangat bersedih. Namun, demi kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga anaknya, mereka harus rela menahan hati dan memilih pergi ke panti.

Mereka takut kondisi tuanya akan membuat anak susah. Mereka yang sudah mulai lemah dan pikun berpikir mungkin akan merepotkan anak-anaknya. Mereka memilih pergi meski sesungguhnya hati tidak ingin.

Mulut mereka bungkam. Tenggorokan mereka tercekat. Air mata mereka jatuh ke dalam. Mereka membuang jauh harapan dalam hatinya. Lagi, lagi karena ingin berkorban untuk anak. Sejak dalam kandungan hingga menjelang ajal datang pun, mereka masih merelakan diri untuk hal yang membuat anaknya bahagia dan nyaman.

Meski diri mereka “dibuang” dan “dijauhkan" dari rumah. Meski mereka dipisahkan dengan orang yang dicintainya. Meski mereka harus memendam kerinduan dan kebersamaan dengan keluarga sampai akhir menutup mata.  Andai saja “tidak masih memikirkan kebahagiaan anaknya”, orang tua akan berkata “anakkku, biarkan ibu dan bapak menghabiskan sisa usia ini di dekatmu”.
______________________________
DI SAAT AKU TUA* 

Di saat aku tua, maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku...
Di saat aku menumpahkan kuah sayuran di bajuku dan lupa mengancing bajuku, ingatlah saat-saat bagaimana aku mengajarimu dan membimbingmu untuk melakukannya....

Di saat aku dengan pikunnya mengulang-ulang kembali apa yang aku ucapkan dan membuatmu 
bosan, bersabarlah dalam mendengarkan aku, jangan potong ucapanku, tetaplah tersenyum....
....seperti aku tersenyum saat kau ingin aku mengulang-ulang cerita penghantar tidurmu...

Di saat aku bingung menghadapi hal-hal baru dan teknologi,
janganlah menertawai aku, ajari aku dengan kasih .......
seperti aku menjawab semua "mengapa" yang pernah kau tanyakan kepadaku...

Di saat kakiku terlalu lemah untuk berjalan, ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku...
....seperti aku bimbing engkau saat belajar melangkah dulu....

Di saat aku melupakan topik obrolan kita, berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya,
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku...asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku..... aku sudah cukup bahagia.

Di saat aku merasa sakit dan mengharap sedikit perhatianmu, tolong jangan salahkan aku jika aku menyita waktu dan tenagamu....
....seperti aku tak pernah lelah menjagamu saat kau lemah di dalam kelambu itu....

Di saat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih, maklumilah diriku, dukunglah aku...
...bagaikan aku terhadapmu di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan...

Di saat kau merindukan aku, kunjungilah aku,
Aku tak akan meminta lebih dari sekedar memegang tangan lembut dan kuatmu, mendengar 
cerita tentang hari-harimu yang indah....yang sampai detik ini pun aku masih ingin tahu...

Dulu aku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah aku hingga akhir jalan hidupku...
Berilah aku cinta kasih dan kesabaranmu...aku akan menerimanya dengan penuh syukur...
Di dalam senyumku ini.... tertanam kasihku yang tak terhingga....hanya untukmu...

Satu pesan yang pasti akan jadi nyata...bahwa kelak suatu hari nanti, ucapan ini akan datang.... 
terucap dengan jelas, dari mulutmu sendiri....
__________________________________

Sahabatku, “kasih sayang orang tua sepanjang jalan tetapi kasih sayang anak hanya sepanjang galah,” begitulah pepatah menggambarkan perbandingan kasih sayang orang tua kepada anak dan kasih sayang seorang anak kepada orang tua. Kasih sayang orang tua tidak pernah berhenti dan tidak terbatas tetapi kasih sayang anak kadang sangat terbatas bahkan tidak ada sama sekali.

Sekarang orang tua  sudah renta, semakin lemah dan tidak berdaya. Kemudian anak mengirimnya ke luar rumah untuk dijaga orang lain. Sementara dulu, orang tua berusaha mencarikan dan membangun rumah agar anak bisa tinggal nyaman bersamanya.

Sejatinya, kita yang saat ini masih muda dan sehat bugar, akan tiba masanya juga menua.
Sikap kita terhadap orang tua saat ini merupakan cerminan sikap anak terhadap kita ketika tua nanti.
Coba rasakan kalau suatu saat kita yang sudah tua dikirim oleh anak kita sendiri ke panti dengan berbagai alasan di atas.Bagaimana kira-kira rasanya? Sangat sedih dan merasa tidak berharga bukan?

Percayalah, kelak setelah mereka sudah tiada, kita pasti akan menyesalinya. Tak hanya itu, kita akan mengalami kerugian yang besar telah melewatkan kesempatan berharga untuk berbakti dengan orang tua. Merawat orang tua di usia senja adalah salah satu pintu untuk masuk surga.

Sungguh rugi. Sungguh rugi. Sungguh rugi,orang yang menjumpai kedua orang tuanya yang sudah tua atau salah seorang dari mereka, tapi hal itu tidak dapat memasukkannya ke Surga!.
( H.R.Muslim)

Di luar sana, tak sedikit anak yang merindukan orang tua karena mereka tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Mereka menangis tersedu-sedu karena ingin berjumpa dengan orang tua yang sudah tiada dan tidak tahu rimbanya. Beruntunglah Sahabat yang saat ini kedua orang tuanya masih hidup. Pintu surga itu masih ada jika kita mau membukanya melalui orang tua kita.

Berbahagialah Sahabat yang telah berlapang dada merawat dan mengabdikan diri untuk orang tua di masa tuanya. SurgaNya menanti kedatangan Sahabat. Semoga kita termasuk anak yang mengenang jasa-jasa orang tua baik ketika masih ada maupun ketika mereka sudah di alam kubur. Amin Ya Rabb.

Sahabatku, mari menyegerakan niat baik kita untuk orang tua. Jangan pernah menunda dan menggantungkan sesuatu untuk orang tua misal menunggu kita sukses dulu, menunggu lebaran, nunggu tamat kuliah dan sebagainya. Ingatlah, waktu yang singkat bisa saja merubah semuanya. Tidak ada jaminan hari esok mereka masih membuka mata, begitu juga dengan kita. Jadi, apakah kita akan terus menunda untuk mereka?


Penulis : Yefra Desfita Ningsih/ Fitzel